Monday, 16 December 2013

Sekelumit Renungan bagi Kawan Papua

Mengutip dari status pertemenan sang aktivis Papua, yang menyadari akan kesia-siaannya menjadi idealisme demi Papua.
Andai Papua merdeka sekalipun, bagi hasil dari freeport atau tambang asing lainnya tidak akan lebih dari apa yang sudah didapat Papua sekarang, malah kecenderungan lebih buruk mungkin saja terjadi.
Kemudian untuk membiayai pegawai negeri, kepolisian dan angkatan perang dari mana? Mengingat medan pelayanan “negara papua” yang sulit juga butuh dana yang tidak sedikit. Dengan mata uang yang kursnya belum tentu bisa dibayar rakyatnya mau gmna?
Standar pendidikan? Kesejahteraan?
Ini juga yang harus jadi mslh yang mesti dipikir, disamping akan adanya konflik horisontal yang meluas, satu suku akan salaing baku pukul untuk eksistensi sukunya yang berkuasa dengan mengorbankan suku-suku lainnya yang jumlahnya ribuan di Papua, kita jangan asal lantang kasih bicara merdeka. Keluar mulut macan masuk mulut buaya.
Tidak ada jaminan Papua lebih sejahtera jika merdeka! Akan muncul konflik dimana-mana..kita benahi saja atas apa yang elit Papua telah rusak untuk kesejahteraan rakyat Papua.
SATU KATA LAWAN.! LAWAN KORUPSI YANG SENGSARAKAN RAKYAT PAPUA!!
RAMPAS..!! RAMPAS HAK-HAK OAP YANG DIAMBIL ELIT PAPUA..!
jADI MARILAH KITA LAWAN KORUPSI , KARENA KORUPSI ADALAH MUSUH KITA YANG PILIH NYATA

Friday, 13 December 2013

Indonesia sudah di kepung oleh amarika serikat!!!, jika kita di serang siapa yang akan bantu kita????

apa yang harus kita lakukan jika as serang kita
Sama seperti saat Irak akan digempur melalui persiapan Operation of Enduring Freedom, dimana saat ini Indonesia sama juga “sudah terkurung” seperti Irak, oleh pangkalan-pangkalan AS yang berada di Christmas Island, Cocos Island, Darwin, Guam, Philippina, Malaysia, Singapore, Vietnam hingga kepulauan Andaman dan Nicobar beserta sejumlah tempat lainnya.”~ Connie Rahakundini Bakrie, pengamat Pertahanan dan Militer dari Universitas Indonesia.

Rencana Amerika Serikat (AS) menggeser 60 persen kekuatan militernya ke kawasan Asia Pasifik hingga tahun 2020 mendatang, membawa implikasi besar bagi kawasan ini, termasuk Indonesia.

Tahun 2020 itu tidak lama. Dalam 6 tahun ke depan, Indonesia sudah terkurung oleh pangkalan-pangkalan militer AS. Apakah kita sudah sepakat sebagai bangsa untuk menyadari dan memahami persepsi ancaman yang sebenarnya sedang dihadapi?

Dengan kondisi ini, jelas sekali, tidak tersedia waktu banyak bagi elite Indonesia untuk segera mereposisi arah kebijakan luar negeri dan pertahanan Indonesia yang lebih tegas, strategis dalam menyikapi perubahan konstalasi politik di kawasan.

Persoalan pangkalan militer di ASEAN ini juga harus menjadi bahan perhatian serius anggota DPR Komisi I DPR dan jangan hanya memperhatikan soal jual beli senjata saja yang rawan fee makelar. Persoalan-persoalan strategis menjadi sangat penting dalam memahami perkembangan geopolitik di Asia Tenggara seiring memanasnya persaingan Amerika Serikat dan RRC dalam lomba kekuatan pengaruh di Asia Tenggara ini. [Anton DH]

Indonesia juga harus memperkuat TNI sebagai aktor pertahanan yang tugas utamanya adalah untuk melindungi segenap wilayah kedaulatan termasuk kekayaan dan kesejahteraan penduduknya.

Hal yang terpenting bukan semata persoalan mana Alutsista yang perlu diganti dan mana yang masih layak pakai. Lebih dari itu, dalam membangun TNI yang profesional dan berwibawa di mata internasional, diperlukan sebuah grand strategy and design atas postur TNI. Postur TNI yang ideal untuk menghadapi segala bentuk ancaman yang segera akan terbentang di kawasan ini dalam 6 tahun mendatang.