TANGGAL 1 Oktober diperingati sebagai Hari Kesaktian
Pancasila. Ini merujuk pada peristiwa Gerakan 30 September 1965 yang
mencoba menggulingkan kekuasaan dan mengubah dasar negara Pancasila.
Selain
itu, peristiwa lain yang menunjukkan kesaktian Pancasila adalah upaya
pemberontakan PKI di Madiun pada 1948. Terlepas dari kontroversi sejarah
yang masih tersisa, peristiwa tersebut juga telah memperteguh keyakinan
bangsa Indonesia terhadap Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa dan
dasar negara. Kendati demikian, tentu sudah bukan saatnya lagi
memosisikan Pancasila sebagai makhluk hidup ataupun spirit yang berbeda
dan terpisah dari masyarakat dan bangsa.
Pancasila sebagai
pandangan hidup bangsa dan dasar negara, bukan makhluk hidup yang
memiliki kesaktian dan menjadi sandaran untuk melindungi bangsa dan
negara. Sebaliknya, kesaktian Pancasila terletak pada penerimaan
masyarakat dan bangsa terhadap kebenaran dan kesesuaian nilai- nilai
Pancasila sebagai dasar dan bintang pemandu dalam penyelenggaraan
kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Ancaman
terhadap posisi dan keberlakuan Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa
dan dasar negara akan senantiasa muncul. Jika pada 30 September 1965
Pancasila menghadapi ancaman nyata berupa penggantian pandangan hidup
bangsa dan dasar negara melalui kekuatan bersenjata dengan menggulingkan
kekuasaan yang sah, ancaman saat ini dan ke depan lebih halus bahkan
tidak terlihat, namun dengan tingkat dan daya rusak yang tidak kalah
berbahayanya dengan ancaman melalui penggulingan kekuasaan.
Dalam
konteks bernegara, ancaman yang paling kuat dan berbahaya adalah
peminggiran dan pengesampingan nilai-nilai Pancasila dalam
penyelenggaraan negara. Akibat itu, negara dijalankan tidak sesuai atau
bahkan bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila. Ancaman nyata yang
sudah dirasakan berbagai pihak adalah ada kepentingan-kepentingan asing,
baik dari negara lain maupun korporasi internasional. Perkembangan
global memacu kompetisi antarnegara dan korporasi internasional.
Mereka
berupaya membuka jalan untuk mengambil keuntungan dengan memengaruhi
hukum dan kebijakan negara dengan berbagai cara dan instrumen, mulai
dari introduksi sistem asing sampai proteksi dari negara. Dalam
kehidupan ekonomi, ini dapat dirasakan dari kuatnya sistem ekonomi
liberal yang didesakkan dalam berbagai peraturan perundang-undangan. Ini
secara yuridis sudah dapat dilihat dari pembatalan UU
Ketenagalistrikan, pengujian UU Migas, dan pembatalan keberadaan BP
Migas oleh MK.
Tentu saja pengaruh luar yang patut dipertanyakan
kesesuaiannya dengan Pancasila tidak hanya terjadi di bidang ekonomi,
tapi juga terjadi di bidang politik dan sosial budaya. Sistem dan budaya
politik yang berkembang pesat saat ini sudah saatnya dievaluasi untuk
dikembalikan ke dalam kerangka demokrasi Pancasila yang mengedepankan
“hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan”.
Ancaman
terhadap Pancasila tentu saja tidak hanya berasal dari luar bangsa
Indonesia atau dari ideologi lain. Ancaman terbesar justru ada dari
dalam bangsa Indonesia. Keberagaman masyarakat yang saling berinteraksi
melahirkan persepsi dan keyakinan terhadap tata nilai tertentu yang
memengaruhi pemaknaan terhadap nilai-nilai Pancasila yang secara tidak
sadar telah mengingkari nilai-nilai Pancasila. Nilai persatuan Indonesia
yang semula dimaknai sebagai pengutamaan identitas satu bangsa di atas
bangsa lain sehingga lahir sikap hidup toleran terhadap perbedaan di
dalam kehidupan bersama bergeser pemaknaannya menjadi toleransi untuk
hidup dalam satu negara Indonesia, tetapi di lokasi yang berbeda.
Dalam
konteks ini Pancasila menghadapi ancaman internal yang tidak secara
nyata mengganti pandangan hidup bangsa dan dasar negara, namun secara
jelas telah membajak dan memanipulasi pemaknaan nilai-nilai Pancasila,
baik dalam aturan maupun penyelenggaraan negara. Ancaman internal juga
muncul dari sikap permisif masyarakat dan segenap penyelenggara negara.
Walaupun
beberapa kalangan telah kembali memiliki antusiasme untuk melakukan
studi dan mendorong elaborasi relevansi nilai-nilai Pancasila sebagai
pandangan hidup bangsa dan dasar negara, itu belum menjangkau masyarakat
luas. Contoh paling mudah dilihat adalah masih maraknya politik uang
dalam berbagaihajatanpemilu. Halyang sama juga terjadi pada
penyelenggara negara, belum banyak yang menjadikan nilai-nilai Pancasila
sebagai dasar dan acuan dalam pembentukan hukum dan pengambilan
keputusan kebijakan pemerintahan.
Ancaman di atas lebih berbahaya
karena tidak mudah dikenali. Tidak ada satu kelompok pun yang dapat
diberi label anti-Pancasila atau berupaya mengganti Pancasila. Lebih
sulit lagi karena sangat mungkin semua kelompok dan pandangan akan
mengklaim diri sebagai paling sesuai dengan Pancasila. Akibat itu, suatu
saat kita mungkin akan dikejutkan dengan kesadaran yang terlambat bahwa
Pancasila memang masih diakui dalam berbagai seremoni kenegaraan, namun
telah hilang dari substansi hukum dan kebijakan negara.
Untuk
menghadapi ancaman tersebut, dibutuhkan kesaktian dengan level lebih
tinggi. Yang dibutuhkan bukan kesaktian berupa kekuatan sipil bersenjata
atau bahkan satu pasukan khusus. Yang dibutuhkan adalah kepedulian dan
komitmen setiap lapisan masyarakat dan segenap penyelenggara negara
terhadap Pancasila. Baik ancaman dari luar maupun dari dalam hanya dapat
dihadapi dengan cara merawat kesaktian Pancasila yang bersumber pada
kepedulian dan komitmen masyarakat dan penyelenggara negara terhadap
Pancasila.
Sebesar apa pun kekuatan asing yang hendak
mengendalikan hukum dan kebijakan nasional akan mudah diinsyafi dan
dikembalikan ke dalam kerangka dasar Pancasila. Demikian pula dengan
dinamika internal akan senantiasa dipandu oleh nilai-nilai dasar
Pancasila sehingga tidak mungkin berkembang hingga terjadi pertentangan
yang saling meniadakan.
JANEDJRI M GAFFAR
Alumnus Program Doktor Ilmu Hukum, Universitas Diponegoro, Semarang
Monday, 30 September 2013
Indonesia XI Fokus ke Pemulihan Fisik dan Latih Sentuhan
Yogyakarta - Jelang melawan Fulham U-21, tim Indonesia
XI melakukan latihan di stadion Maguwoharjo, Senin (30/9/2013) malam.
Dipimpin oleh Djadjang Nurdjaman, Indonesia XI fokus pulihkan fisik dan
melatih sentuhan.
Datang bebarengan dengan Fulham U21, tim Indonesia mendapatkan kesempatan berlatih setelah tim asal Inggris tersebut usai mencoba lapangan. Tim Indonesia XI membagi latihan menjadi enam sesi, yakni game 'kucing-kucingan', pemanasan, pass and move, mini game, shooting, dan ditutup dengan pendinginan.
Berbeda dengan para pemain Fulham yang tampak begitu serius melakukan latihan, para pemain Indonesia cenderung lebih santai dan rileks di latihan ini.
Djadjang sendiri menyatakan lebih fokus untuk memulihkan fisik para pemain setelah melakukan perjalanan jauh. Selain itu, ia juga sedikit memberikan latihan sentuhan.
"Tidak ada persiapan khusus untuk laga ini, karena hanya latihan satu kali dan baru bertemu. Kita hanya fokus untuk recovery setelah perjalanan jauh dan melatih sentuhan dengan penguasaan bola," kata Djadjang ketika ditemui detikSport usai latihan.
Untuk laga besok, Djadjang mengaku tantangannya akan berada pada bagaimana mengatasi kecepatan para pemain muda Fulham. Namun pelatih Persib ini yakin tim Indonesia bakal sukses melalui tantangan tersebut.
"Tantangan pastinya kecepatan karena kita menghadapi pemain-pemain muda. Kita harus antisipasi itu dan saya pikir kita bisa," ujar Djadjang.
"Kita juga tidak ingin kalah di pertandingan besok. Yang pasti kita akan main secara seimbang besok, bertahan dan menyerang," tambahnya.
Skuat Indonesia nantinya akan terdiri dari 18 pemain, campuran pemain Persib, PSS Sleman, dan sejumlah pemain nasional. Mereka di antaranya adalah I Made Wirawan, Maman Abdurrahman, Firman Utina, Juan Revi, dan Titus Bonai. Sementara Greg Nwokolo dan Victor Igbonefo baru akan bergabung di hari pertandingan.
Indonesia XI dan Fulham U-21 akan bertanding di stadion Maguwoharjo, Sleman, Selasa (1/10/2013) petang WIB dalam ajang persahabatan
Datang bebarengan dengan Fulham U21, tim Indonesia mendapatkan kesempatan berlatih setelah tim asal Inggris tersebut usai mencoba lapangan. Tim Indonesia XI membagi latihan menjadi enam sesi, yakni game 'kucing-kucingan', pemanasan, pass and move, mini game, shooting, dan ditutup dengan pendinginan.
Berbeda dengan para pemain Fulham yang tampak begitu serius melakukan latihan, para pemain Indonesia cenderung lebih santai dan rileks di latihan ini.
Djadjang sendiri menyatakan lebih fokus untuk memulihkan fisik para pemain setelah melakukan perjalanan jauh. Selain itu, ia juga sedikit memberikan latihan sentuhan.
"Tidak ada persiapan khusus untuk laga ini, karena hanya latihan satu kali dan baru bertemu. Kita hanya fokus untuk recovery setelah perjalanan jauh dan melatih sentuhan dengan penguasaan bola," kata Djadjang ketika ditemui detikSport usai latihan.
Untuk laga besok, Djadjang mengaku tantangannya akan berada pada bagaimana mengatasi kecepatan para pemain muda Fulham. Namun pelatih Persib ini yakin tim Indonesia bakal sukses melalui tantangan tersebut.
"Tantangan pastinya kecepatan karena kita menghadapi pemain-pemain muda. Kita harus antisipasi itu dan saya pikir kita bisa," ujar Djadjang.
"Kita juga tidak ingin kalah di pertandingan besok. Yang pasti kita akan main secara seimbang besok, bertahan dan menyerang," tambahnya.
Skuat Indonesia nantinya akan terdiri dari 18 pemain, campuran pemain Persib, PSS Sleman, dan sejumlah pemain nasional. Mereka di antaranya adalah I Made Wirawan, Maman Abdurrahman, Firman Utina, Juan Revi, dan Titus Bonai. Sementara Greg Nwokolo dan Victor Igbonefo baru akan bergabung di hari pertandingan.
Indonesia XI dan Fulham U-21 akan bertanding di stadion Maguwoharjo, Sleman, Selasa (1/10/2013) petang WIB dalam ajang persahabatan
indahnya kota papua jaya pura di malam hari
FRANS KAISIEPO
Indahnya kota jaya pura., perjuangan dari kaisepo |
Mungkin, banyak yang melupakan jasa Pahlawan
Nasional dari tanah Papua, Frans Kaisipo yang telahberjuang sejak
masa-masa kemerdekaan RI. Tindakannya yang sangat teguh menyatakan bahwa
Papua merupakan bagian dari Nusantara Indonesia, menjadikan dirinya
“dipinggirkan” oleh pemerintah Belanda karena hingga setelah proklamasi
kemerdekaan Indonesia, pemerintah Belanda masih bersikukuh menjadikan
Papua sebagai wilayah koloninya.
Hingga pada suatu ketika di tahun 1946, Frans
Kaisiepo dengan lantang mengatakan “Irian (Papua) itu merupakan bagian
dari Indonesia.”
Frans Kaisiepo lahri di Wardo, Biak, 10 Oktober 1921. Pada usia 24 tahun, ia mengikuti Kursus Bestuur(Pamong
Praja) di Hollandia (Jayapura) yang salah stau pengajarnya adalah
Soegoro Atmoprasodjo yang merupakan mantan guru Taman Siswa
(yogyakarta).
Sejak pertemuannya dengan Soegoro
Atmoprasodjo, jiwa kebangsaan Frans semakin bertumbuh dan kian berjuang
keras untuk menyatukan Irian (Papua) kedalam NKRI. Ketika umurnya 25
tahun, Frans menggagas berdirinya Partai Indonesia Merdeka (PIM) di
Biak. Selain itu, pada usianya yang ke-25 tersebut, Frans menjadi
anggota delegasi Papua (Nederlands Nieuw Guinea) yang kala itu membahas
tentang pembentukan Negara Indonesia Timur (NIT) dalam Republik
Indonesia Serikat (RIS), dimana pada saat itu Belanda memasukkan Papua
dalam NIT.
Di hadapan konferensi, Frans Kaisiepo
memperkenalkan nama “Irian” sebagai pengganti nama “Nederlands Nieuw
Guinea”, yang secara historis dan politik merupakan bagian integral dari
Nusantara Indonesia (Hindia-Belanda). Jelaslah pernyataan Frans serta
merta ditolak oleh Belanda dan sejak saat itu pula Frans dipinggirkan
oleh Belanda. Selain itu, ia juga dijauhkan dari segala agenda
pembicaraan mengenai Papua yang dilakukan oleh pemerintah kolonial
Belanda.
Pada 1940-an, Frans Kaisiepo pernah menjadi
Kepala Distrik d Warsa, Biak Utara dan menjelang dekade 1940an, ia
sempat mengusulkan diri agar Irian (Papua) masuk ke dalam wilayah
Karesidenan Sulawesi Utara. Beberapa waktu setelah pengusulan itu, ia
dipenjara dan diasingkan oleh Belanda. Kemudian tahun 1961, Frans
mendirikan Partai Politik Irian yang bersikap lantang menuntut penyatuan
segera Irian (Papua) ke dalam NKRI.
Adanya beberapa tuntutan dari berbagai pihak
agar Irian (Papua) segera diserahkan kepada pemerintah Indonesia
mengakibatkan perlunya konferensi yang membicarakan hal tersebut. Oleh
sebab itu, tahun 1949, digelarkan Koferensi Meja Bundar (KMB). Pada saat
itu, Belanda meminta Frans Kaisiepo masuk sebagai anggota delegasi
Belanda atau negara bagian BFO (Bijeenkomst voor Federaal Overleg). Jelas hal tersebut langsung ditolak oleh Frans.
Dari hasil KMB tersebut, lahirlah keputusan
tentang pengakuan kedaulatan oleh keputusan mengenai pengakuan
kedaulatan oleh Belanda terhadap seluruh wilayah NKRI, namun Belanda
menunda penyerahan Papua kepada Indonesia hingga setahun kemudian. Akan
tetapi, setelah setahun berjalan, Belanda tetap berusaha keras
melanggengkan politik kolonialnya di Papua.
Berbagai jalur diplomasi pun terus
dilakukan Pemerintah Indonesia, namun Belanda semakin bersikukuh
mempertahankan kolonialisasinya terhadap Papua bahkan semakin terlihat
keinginan Belanda menyiapkan “Negara Papua”.
Setelah melewati beberapa konfrontasi, pada 4
Agustus 1969 dilaksanakanlah Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) yang
pada saat itu Frans masih menjadi Gubernur Papua. Jelas Frans Kaisiepo
sangat berperan dalam pelaksanaan Pepera tersebut.
Hasil dari dari Pepera tersebut adalah suara
bulat dari masyarakat Papua adalah tetap bergabung dengan Indonesia.
Pelaksanaan Pepera diawasi langsung oleh utusan Sekjen PBB (diplomat
Bolivia, Fernando Ortiz Sanz selaku wakil PBB untuk Irian Barat) serta
dihadiri oleh beberapa duta besar dari negara lain.
Melalui Resolusi No.2504 pada tanggal 19 November 1969, secara resmi Papua dinyatakan kembali ke dalam pangkuan NKRI.
Tentulah Frans Kaisiepo sangat berjasa dalam
perebutan kemerdekaan Irian (Papua) dari pemerintah Belanda. Oleh sebab
itu, pemerintah RI menganugerahi penghargaan Trikora dan Pepera kepada
Frans Kaisiepo.
Sangat jelas bukan, bahwa Papua memang jelas
bagian Indonesia sejak dahulu kala. Perjuangan para Pahlawan Nasional
dari tanah Papua juga turut mewarnai penyatuan NKRI. Lah sekarang kok
iya, penerusnya malah berkhianat terhadap jasa para pahlawannya?
Jelas tertulis diatas, bahwa keinginan
mendirikan “Negara Papua” adalah keinginan Pemerintah Belanda, bukan
keinginan dari para pahlawan yang berjuang mati-matian ingin
memerdekakan wilayah Papua dari jajahan Belanda.
Program Papua Emas dan PON ke-XX
ZONADAMAI.com: Program
Papua Emas adalah suatu program yang dirintis Gubernur Lukas Enembe,
S.I.P., M.H., untuk mempersiapkan atlit-atlit usia dini dari Bumi
Cenderawasih menuju PON XX Tahun 2020. Apa saja rencana kedepannya?
Gubernur Papua Lukas Enembe ketika jamuan
makan malam bersama Tim Ofisial Persipura di Restoran Bee-One,
Jayapura, beberapa waktu lalu mengatakan, ketika beraudensi dengan
Presiden SBY di Puri Cikeas, Jawa Barat, 29 April 2013 silam, ia
sudah meminta Presiden SBY memberikan kepercayaan kepada Pemda Papua
melakukan kerjasama bilateral dengan negara-negara tetangga di kawasan
Pasifik untuk mengembangkan sepakbola, seni, budaya, pendidikan,
ekonomi dan lain-lain, termasuk menjadi tuan rumah PON XX Tahun 2020
mendatang, Atlit-atlit Papua sudah cukup bawa nama Indonesia di pentas
dunia. Kini tibalah saatnya Papua ingin menjadi tuan rumah PON XX.
Menurut Gubernur pertama asal wilayah
Pegunungan Tengah Papua ini, Presiden SBY telah menyetujui Papua menjadi
tuan rumah PON Tahun 2010.
“Persipura telah memberikan bukti, kalau
mau naik bendera Merah Putih lagi di pentas internasional perhatikan
Papua. Bendera Merah Putih bisa naik karena orang-orang Papua yang bisa
lakukan yang lain tak bisa,”tegas Gubernur Enembe.
Dikatakan,program Papua Emas yang akan
diluncurkan pada Oktober mendatang adalah suatu program untuk membina
dan mempersiapkan atlit-atlit usia dini dari Bumi Cenderawasih menuju
PON XX Tahun 2020, yang dibiayai dari APBD Papua serta kontribusi dari
PT. Freeport Indonesia, Bank Papua, PT. Bosowa.
Gubernur juga berujar, ketika Rapat Umum
Pemegang Saham (RUPS) Bank Papua di Timika beberapa waktu lalu, dirinya
telah memerintahkan PT Freeport Indoesia untuk memperhatikan pembangunan
bidang olahraga di Papua. Alhasil, ketika dirinya menjadi Gubernur,
maka seluruh rekening pemerintah daerah yang disimpan di sejumlah
perbankan nasional antara lain BRI, Bank Mandiri dan BNI semuanya
ditarik. Aset Bank Papua bernilai Rp19 Triliun ini bisa digunakan dalam
rangka membantu kemajuan ekonomi, olahraga Papua sehingga Bank Papua
lebih memperhatikan kebutuhan pembangunan Papua.
“Dengan demikian, ko punya kewajiban untuk memajukan olahraga di Tanah Papua,”tukas Enembe.
Masiih menurut Enembe, Pemprov Papua
telah menyampaikan 11 item kerjasama bersama PT. Freeport Indonesia,
antara lain peletakan batu pertama pembangunan Sport Center (Pusat
Olahraga) modern di Timika bernilai Rp300 Miliar, dilengkapi sarana
kolam renang, lintasan lari dan lain-lain.
“Menurut pelaksana Sport Center orang
Amerika, Sport Center ini termegah di Asia, bahkan lebih megah dari
Istora Bung Karno Senayan Jakarta,”ucap Gubernur Enembe.
Gubernur Lukas Enembe menambahkan,
Freeport bangun Sport Center yang luar biasa bagi atletik, sebagai
bagian dari komitmen penuh untuk memajukan olahraga di Tanah Papua. [Bintang Papua]
HUT RI 68 AS dan Australia Kirim Pasukan Gelap ke Papua , hati-hati dengan amerika
amkita sebagai bangsa , sudah tahu bahwa freeport itu miliknya amerika, hanya saja. indonesia tidak punya teknologi . untuk mengolah kekayaannya sendiri ya..
SIAGA – JAKARTA Pemerintah Amerika Serikat dan Australia di Hari Ulang Tahun Kemerdekaan NKRI ke 68 berniat merongrong kewibawaan NKRI. Caranya, yaitu dengan mengirimkan beberapa intelegen berkedok aktivis ke Papua.
Menurut AS dan Australia, wilayah Papua bukan bagian dari NKRI dan belum memiliki kemerdekaan. Pemahaman tersebut juga didapat oleh para pengungsi asal Papua yang kini banyak mendapatkan suaka politik di Australia. Pengungsi asal Papua itu kebanyakan berlatar belakang kriminal dan menjadi buronon Pemerintah Indonesia. Mereka menjadi pelaku pembunuhan anggota TNI dan Kepolisian di wikayah Indonesia bagian paling timur itu.
Namun, pihak berwenang Indonesia telah memperingatkan sekelompok aktivis bentukan pemerintah AS dan Australia itu untuk tidak berlayar di Papua hari ini (17/8), atau beresiko dicegat atau ditahan.
Kelompok tersebut, yang menamakan diri Freedom Flotilla, mempersiapkan tiga kapal untuk berlayar dari Cairns ke Papua dengan tujuan menyoroti perlunya perdamaian dan stabilitas di daerah itu.
Awaknya terdiri dari sejumlah sesepuh Aborigin, pengungsi Papua, pembuat film dan aktivis lainnya.
Namun Wakapolda Papua Paulus Waterpauw mengatakan, kedatangan kapal-kapal tanpa ijin akan dicegat oleh Angkatan Laut dan mungkin akan ditahan oleh pihak berwenang imigrasi.
Dikatakannya, kalau ada dari kelompok itu yang mempunyai sejarah kriminal atau masuk dalam daftar orang yang dicari-cari, ia akan ditangkap.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga telah mengeluarkan peringatan keras kepada negara-negara lain, dan mengatakan, mereka tidak boleh melanggar kedaulatan Indonesia dan menimbulkan keresahan.
Dikatakannya, provinsi-provinsi Papua adalah bagian dari Indonesia dan hal itu harus dihormati.
Jika tidak, Pemerintah Indonesia melalui TNI akan melakukan perlawanan keras terhadap negera manapun yang hendak mengangkangi bumi pertiwi, terlebih di hara yang sakral yaitu Hari Jadi NKRI ke 68 in
Bentuk Perhatian Kepada Papua
Pasca
memenangi Pemilihan Gubernur Papua beberapa bulan lalu dilanjutkan
dengan pelantikan oleh Menteri Dalam Negeri bulan lalu di Jayapura,
Lukas Enembe gencar melakukan serangkaian kunjungan ke Jakarta bertemu
dengan pemerintah pusat. Sudah pasti Lukas membawa agenda besar untuk
menjalankan amanat dari rakyat Papua. Untuk membangun Papua bangkit,
mandiri dan sejahtera, akhir April lalu Lukas Enembe yang didampingi
Wakil Gubernur Klemen Tina bertandang ke Istana Negara untu bertemu
dengan Presiden SBY. Pemerintah pusat berencana menerapkan perluasan
otonomi khusus, yang disebut Otonomi Khusus Plus, untuk mengatasi
berbagai persoalan di Papua. Tujuannya otsus plus Papua adalah untuk
menjawab berbagai persoalan di provinsi paling timur tersebut. Melalui
otsus plus harus menjadi provinsi yang damai dan sejahtera.
Awal
bulan ini kembali Gubernur Papua bertemu dengan pimpinan DPR RI untuk
membicarakan dana otonomi khusus Papua. Dana otsus tersebut dinilai
belum optimal manfaatnya. Dana otsus Papua, alokasinya tidak memiliki
skema yang jelas sehingga belum memberikan manfaat yang signifikan
kepada masyarakat. Otsus Papua sejatinya ditelorkan untuk mengatasi
masalah-masalah kesenjangan antara Papua dengan daerah lain di
Indonesia.
Provinsi
Papua adalah Provinsi yang diberi Otonomi Khusus dalam kerangka Negara
Kesatuan Republik Indonesia. Otonomi Khusus sendiri adalah kewenangan
khusus yang diakui dan diberikan kepada Provinsi Papua, termasuk
provinsi-provinsi hasil pemekaran dari Provinsi Papua, untuk mengatur
dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri
berdasarkan aspirasi dan hak-hak dasar masyarakat Papua. Otonomi ini
diberikan oleh Negara Republik Indonesia melalui Undang-undang Nomor 21
Tahun 2001 (LN 2001 No. 135 TLN No 4151).
Pemberian
Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua dimaksudkan untuk mewujudkan
keadilan, penegakan supremasi hukum, penghormatan terhadap HAM,
percepatan pembangunan ekonomi, peningkatan kesejahteraan dan kemajuan
masyarakat Papua, dalam rangka kesetaraan dan keseimbangan dengan
kemajuan provinsi lain. Otonomi khusus melalui UU 21/2001 menempatkan
orang asli Papua dan penduduk Papua pada umumnya sebagai subjek utama.
Orang asli Papua adalah orang yang berasal dari rumpun ras Melanesia
yang terdiri dari suku-suku asli di Provinsi Papua dan/atau orang yang
diterima dan diakui sebagai orang asli Papua oleh masyarakat adat Papua.
Sedangkan penduduk Papua, adalah semua orang yang menurut ketentuan
yang berlaku terdaftar dan bertempat tinggal di Provinsi Papua.
Pertengahan pekan ini Gubernur Papua melakukan pertemuan dengan Menteri Koordinator
Bidang Perekonomian Hatta Rajasa. Pertemuan yang dilakukan gubernur
Papua ini, guna menindaklanjuti pertemuan dengan presiden beberapa waktu
lalu. Dimana, presiden mendukung otonomi khusus plus yang diajukan oleh
pemerintah papua dibawah pimpinan gubernur Lukas Enembe. Dalam
pertemuan itu, Hatta Rajasa menyatakan siap mendukung peningkatan
Perekonomian di Papua dan Pembangunan Jalan Trans Papua yang sudah masuk
dalam program gubernur lima tahun kedepan.
Gubernur
Papua menyampaikan rencana program peningkatan kesejahteraan Masyarakat
Papua yang selama ini masih mengalami keterbelakangan dan sulitnya
transportasi didaerah pegunungan yang membuat masyarakat Papua masih
berada dalam garis kemiskinan, sehingga gubernur meminta adanya perhatian pemerintah pusat untuk membantu dan mendukung program yang akan dilaksanakannya.
Jalan
trans Papua ini dapat menghubungkan satu kabupaten dengan kabupaten
lainnya, sehingga masyarakat yang terisolir dapat menjual hasil bumi
mereka keluar daerahnya, sehingga pertumbuhan ekonomi masyarakat papua
dengan sendirinya mengalami pertumbuhan dan sendirinya kesejahteraan
masyarakat mulai nampak diberbagai kabupaten di Papua.
Harapan
besar Gubernur Papua pada pemerintah pusat melalui Menko Perekonomian
Hatta Rajasa agar mau mendukung keinginan dari masyarakat papua melalui
otonomi khusus plus disambut dengan antusias oleh Hatta Rajasa dan
pihaknya siap membekap dan mendukung sepenuhnya program Gubernur dan
wakil Gubernur Papua demi meningkatkan ekonomi masyarakat.
Tidak
hanya itu Hatta juga mendukung adanya pembukaan jalan Trans Papua
sehingga masyarakat didaerah terpencil dan terisolir dapat terbuka
aksesnya keluar daerah. Dukungan Hatta harus kita maknai sebagai sebuah
bentuk kepedulian dan perhatian Ketua Umum PAN ini ke masyarakat Papua.
Kita pasti punya harapan yang sama dengan pimpinan daerah di Papua dan
Menko Hatta bahwa semua pihak mau mendukung program ini dan bersatu
membangun Papua yang lebih mandiri dan sejahtera.
Islamic Solidarity Games Diwarnai Debat soal Pakaian
Islamic Solidarity Games dibuka di Indonesia di tengah kekacauan jadwal
acara dan debat mengenai pakaian yang pantas bagi para atlet muslim.
Islamic Solidarity Games dibuka di Indonesia di tengah kekacauan jadwal acara dan debat mengenai pakaian yang pantas bagi para atlet muslim.Lebih dari 1.800 atlet dari 46 negara berpenduduk Muslim mengambil bagian dalam pertandingan yang berlangsung di negara berpenduduk Muslim terbesar dunia tersebut, demikian dinyatakan oleh panitia penyelenggara.
“Mari kita sisihkan dulu beban politik kita,” kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam pembukaan acara, saat ia memberikan penghormatan khusus bagi kontingen Mesir, Suriah dan Palestina yang ikut dalam acara tersebut.
“Melalui acara ini, mari kita buktikan kepada dunia bahwa negara-negara Islam bisa hidup harmonis dan bersatu,” kata dia.
Acara pembukaan berlangsung sederhana di Palembang, ibukota Sumatra Selatan, merefleksikan sulitnya pendanaan acara tersebut.
Panitia lokal mengatakan mereka belum menerima dana dari pemerintah pusat.
“Menakutkan. Dana itu belum cair sampai sekarang, kami minta bantuan ke kiri dan ke kanan supaya acara ini bisa terselenggara sesuai rencana,“ kata Djoko Pramono, seorang anggota senior komite penyelenggara.
Acara yang akan berlangsung hingga 1 Oktober ini, menghadapi serangkaian masalah lain termasuk dua perubahan lokasi.
Acara itu tadinya dipindahkan dari Riau di Sumatra ke ibukota Jakarta, dan akhirnya digeser lagi ke Palembang setelah adanya kebaratan dari para pejabat Sumatra.
Penyelenggara hanya punya waktu kurang dari dua bulan untuk memindahkan semua acara itu ke lokasi baru.
Debat soal pakaian
Perlombaan pertama The Islamic Solidarity Games diselenggarakan tahun lalu di Arab Saudi. Saat itu pakaian bikini dilarang, dan hari pertandingan atlet laki-laki dan perempuan dipisahkan sepenuhnya, sementara para laki-laki dilarang menonton pertandingan renang atlet perempuan.
Tapi, pihak penyelenggara Indonesia menolak pembatasan tersebut. Mereka juga menolak permintaan sejumlah negara yang menginginkan agar pertandingan antara atlet laki-laki dengan atlet perempuan dilakukan di hari yang berbeda.
”Kami sudah mengatakan sejak tahun lalu bahwa kami akan mengikuti aturan internasional, bukan aturan Muslim,” kata Pramono.
”Kami memberi kepada para atlet kebebasan penuh untuk mengenakan apapun yang mereka mau. Kalau mereka ingin memakai burqa atau jilbab untuk voli pantai, silakan, kami tidak akan melarang mereka,” tambah Pramono.
Rita Subowo, kepala Komite Olimpiade Indonesia mengatakan bahwa tim bola voli pantai perempuan Indonesia akan memakai kostum two-piece untuk mempermudah gerakan dan karena pakaian itu juga telah disetujui Komite Olimpiade Internasional.
Kostum two-piece, yang biasa dipergunakan dalam pertandingan internasional adalah atasan seperti bra olahraga dan celana pendek ketat, yang bagi kalangan konservatif dianggap terlalu terbuka memamerkan aurat.
Pertandingan diawali dengan cabang bola basket dan sepakbola, dan 11 cabang lainnya akan dimulai pada beberapa hari mendatang.
Perhatian kini tertuju pada kompleks olahraga Palembang, yang pada tahun 2011 menjadi lokasi penyelenggaraan Sea Games.
Sejumlah fasilitas belum selesai dibangun ketika acara olahraga terbesar Asia Tenggara itu dibuka, sementara puluhan atlet menderita keracunan makanan pada saat itu.
Selama Sea Games 2011, dua penggemar sepakbola tewas akibat berdesakan di stadion.
Masa Depan Indonesia Dipercayai Bisa Lebih Maju
Kuala Lumpur, (ANTARA KL) - Perkembangan ekonomi Indonesia yang terus
membaik dipercayai dapat lebih maju lagi di masa mendatang sehingga
diharapkan dapat memberikan kesejahteraan bagi seluruh warga negaranya.
"Saya percaya, Indonesia bisa lebih maju di masa mendatang," kata Ketua Dewan Negara Parlemen Malaysia, Tan Sri Abu Zahar Ujang dalam jamuan makan malam dengan sejumlah perwakilan media dan organisasi massa dari Indonesia di Kuala Lumpur, Rabu.
Untuk itu, kata dia, tentunya hubungan yang erat dibidang ekonomi dengan Indonesia bisa lebih dieratkan.
Dikatakannya, Indonesia dan Malaysia itu tidak bisa dipisahkan karena sebagai negara serumpun tentu banyak keterkaitannya.
"Perlu dilakukan bagaimana supaya dieratkan dalam semangat untuk membangun baik di bidang ekonomi, sosial, budaya maupun bidang keilmuan lainnya," kata Abu Zahar yang berasal dari Negeri Sembilan yang garis keturunannya berasal dari Bukittinggi, Sumatera Barat.
Dikatakannya, Parlemen Malaysia sangat mendukung upaya-upaya meningkatkan hubungan yang lebih mesra antar dua bangsa serumpun ini.
"Kita perlu bertukar pikiran untuk menangani segala permasalahan yang telah ataupun akan timbul sehingga nantinya menumbuhkan persamaan perasaan untuk menyelesaikannya tanpa harus melalui mahkamah ataupun pihak ketiga," ungkapnya.
Sedangkan, anggota Senat Dewan Negara, Ezam M. Noor memandang bahwa pertemuan-pertemuan antar masyarakat harus berkelanjutan untuk membahas berbagai bidang seperti ekonomi, sosial, budaya, dan lainnya.
"Pertemuan antarmasyarakat dua negara seperti 'pertemuan Serantau One Region" ini harus ditingkatkan dan berkelanjutan. Sekali waktu, pertemuan tidak perlu dalam jumlah besar, tapi juga bisa dalam skala kecil, sekitar lima orang dengan materi pembahasannya harus jelas dan ada target pencapaian," katanya.
Bahkan, lanjut dia, pertemuan tidak selalu harus dilakukan di Jakarta ataupun Kuala Lumpur, tapi bisa dikota-kota lainnya seperti di Medan, Pekanbaru, Johor, Penang ataupun Melaka. "Ini penting agar hubungan tidak tersentral di ibukota negara saja," ungkapnya.
Sementara itu, Ketua PP Pemuda Muhammadiyah, Saleh Partaonan Daulay menambahkan pertemuan antar organisasi massa (ormas) harus konkrit dan konstruktif sehingga ke depan bisa menghasilkan yang lebih menguatkan hubungan dua negara ini.
"Sebab ormas memiliki peran penting dalam merajut hubungan kedua negara menjadi lebih kokoh. Jadi bila ada mendengar ada permasalahan yang timbul maka ormas kedua negara sama-sama berupaya untuk menjernihkannya dengan menyampaikan informasi yang benar dan faktual," ungkapnya.
"Saya percaya, Indonesia bisa lebih maju di masa mendatang," kata Ketua Dewan Negara Parlemen Malaysia, Tan Sri Abu Zahar Ujang dalam jamuan makan malam dengan sejumlah perwakilan media dan organisasi massa dari Indonesia di Kuala Lumpur, Rabu.
Untuk itu, kata dia, tentunya hubungan yang erat dibidang ekonomi dengan Indonesia bisa lebih dieratkan.
Dikatakannya, Indonesia dan Malaysia itu tidak bisa dipisahkan karena sebagai negara serumpun tentu banyak keterkaitannya.
"Perlu dilakukan bagaimana supaya dieratkan dalam semangat untuk membangun baik di bidang ekonomi, sosial, budaya maupun bidang keilmuan lainnya," kata Abu Zahar yang berasal dari Negeri Sembilan yang garis keturunannya berasal dari Bukittinggi, Sumatera Barat.
Dikatakannya, Parlemen Malaysia sangat mendukung upaya-upaya meningkatkan hubungan yang lebih mesra antar dua bangsa serumpun ini.
"Kita perlu bertukar pikiran untuk menangani segala permasalahan yang telah ataupun akan timbul sehingga nantinya menumbuhkan persamaan perasaan untuk menyelesaikannya tanpa harus melalui mahkamah ataupun pihak ketiga," ungkapnya.
Sedangkan, anggota Senat Dewan Negara, Ezam M. Noor memandang bahwa pertemuan-pertemuan antar masyarakat harus berkelanjutan untuk membahas berbagai bidang seperti ekonomi, sosial, budaya, dan lainnya.
"Pertemuan antarmasyarakat dua negara seperti 'pertemuan Serantau One Region" ini harus ditingkatkan dan berkelanjutan. Sekali waktu, pertemuan tidak perlu dalam jumlah besar, tapi juga bisa dalam skala kecil, sekitar lima orang dengan materi pembahasannya harus jelas dan ada target pencapaian," katanya.
Bahkan, lanjut dia, pertemuan tidak selalu harus dilakukan di Jakarta ataupun Kuala Lumpur, tapi bisa dikota-kota lainnya seperti di Medan, Pekanbaru, Johor, Penang ataupun Melaka. "Ini penting agar hubungan tidak tersentral di ibukota negara saja," ungkapnya.
Sementara itu, Ketua PP Pemuda Muhammadiyah, Saleh Partaonan Daulay menambahkan pertemuan antar organisasi massa (ormas) harus konkrit dan konstruktif sehingga ke depan bisa menghasilkan yang lebih menguatkan hubungan dua negara ini.
"Sebab ormas memiliki peran penting dalam merajut hubungan kedua negara menjadi lebih kokoh. Jadi bila ada mendengar ada permasalahan yang timbul maka ormas kedua negara sama-sama berupaya untuk menjernihkannya dengan menyampaikan informasi yang benar dan faktual," ungkapnya.
Berbagai Senjata Perang Buatan Indonesia yang Digunakan Oleh Dunia
iapa bilang Indonesia tak mampu membuat berbagai senjata perang?
Buktinya, berbagai senjata perang buatan Indonesia berikut ini telah
diekspor ke luar negeri guna memperkuat pertahanan negara mereka
masing-masing. Sungguh hebat bukan? Lantas apa saja senjata perang
buatan Indonesia yang berhasil diekspor dan digunakan oleh pasukan
militer negara lain tersebut? Inilah daftar lengkapnya.
1.peluru buatan pindad
1.peluru buatan pindad
Selama ini, kebutuhan peluru yang biasa
digunakan oleh TNI dan POLRI dalam bertugas selalu dipasok dari peluru
hasil produksi PT. Perindustrian Angkatan Darat (Pindad). PT. Pindad
biasa memproduksi peluru berkalibar 5,56 mm, 7,62 mm hingga 9 mm. Namun
ternyata, peluru produksi PT. Pindad tersebut tak hanya sering digunakan
untuk membantu memperkuat serangan militer Indonesia, namun juga
diekspor hingga ke beberapa negara seperti Filipina, Singapura,
Bangladesh, hingga ke Amerika Serikat. Bahkan Singapura telah memesan 10
juta peluru sekaligus untuk memperkuat pertahanan militer mereka.
Amerika Serikat pun bahkan memesan satu juta peluru yang harganya
mencapai USD 200.000 pada tahun 2009 silam. Peluru PT. Pindad tersebut
berhasil melewati berbagai uji kelayakan internasional dan telah
mendapatkan berbagai sertifikat kualitas seperti ISO 9001 dari SGS
Yearsly-International Certification Services Ltd, Inggris, di tahun
1994.
2. Smoke Warhead (Kepala roket)
Selain digunakan oleh TNI, kepala roket
berdiamter 70 mm ini merupakan produk Indonesia lainnya yang berhasil
diekspor ke luar negeri dan memiliki kualitas lebih baik daripada Smoke Warhead
buatan Rusia dan Amerika Serikat sekalipun. Rencananya, beberapa waktu
ke depan ini, Smoke Warhead buatan PT. Sari Bahari ini juga akan segera
diekspor ke Cile. Tak tanggung-tanggung, Cile bahkan telah memesan 260
Smoke Warhead dari pabrik yang berasal dari kota Malang, Jawa Timur,
tersebut guna memperkuat pertahanan militernya. Alat militer yang telah
diproduksi sejak tahun 2000 silam ini nantinya akan dipasangkan pada
roket pasangan pesawat jenis Super Tucano. Smoke Warhead
berfungsi sebagai pemberi informasi penting pada pilot untuk mengetahui
letak pasti jatuhnya roket. Untuk memberikan info tersebut, Smoke Warhead akan mengeluarkan asap selama 2 menit hingga akhirnya roket jatuh ke tanah.
3. Pesawat CN 235-MPA
PT. Dirgantara Indonesia berhasil memproduksi sebuah pesawat berjenis CN 235 Maritime Patrol Aircraft (MPA)
yang berhasil mencuri perhatian negara lain, salah satunya adalah Korea
Selatan. Bahkan pada tahun 2011-2012 lalu, Negeri Ginseng tersebut
memesan empat buah pesawat CN 235-MPA sekaligus dengan total biaya
sebesar USD 94,5 juta. Kontrak bahkan telah ditanda tangani sejak tahun
2008. CN 235-MPA merupakan modifikasi dari pesawat jenis CN-235 yang
sangat cocok digunakan sebagai alat patrol perarian dan angkutan
personel. CM 235-MPA dilengkapi dengan sistem navigasi dan komunikasi
yang canggih. Selain mengekspor pesawat CN 235-MPA ke Korea Selatan, PT.
Dirgantara Indonesia juga berhasil mengekspor pesawat CN 235 jenis
pesawat angkutan militer VIP ke Senegal, Afrika.
4. Senapan PT. Pindad
Bukan hanya Smoke Warhead PT. Pindad
saja yang diminati oleh berbagai negara asing. Namun berbagai senapan
seperti senapa serbu (SSI-VI, SS2-V2, SS1-V3 dan SSI-V5), revolver
(R1-V1, R1-V2, RG-1 (tipe A), RG-1 (tipe c), senapan polisi (Sabhara V1
dan Sabhara V2), pistol profesional magnum, senapan sniper (SPR-1),
pistol (P-1 dan P-2) hingga peluncur granat pun sangat diminati oleh
berbagai negara asing seperti Thailand, Zimbabwe, Thailand, Mozambik dan
Nigeria.
Ilmuwan Indonesia Mendunia ‘Lebih Terkenal di Negeri Orang’
Banyak orang yang merasa malu dan tidak
bangga menjadi bangsa Indonesia. Kondisi perekonomian dan tingkah laku
elit dan politisi yang seringkali membuat ulah negatif terkadang membuat
orang minder mengaku sebagai rakyat Indonesia. Kita tidak bisa menutup
mata dengan kenyataan yang terjadi. Namun kita masih memiliki harapan
bahwa ternyata ada rasa kebanggaan jika kita melihat para ilmuwan
Indonesia yang menunjukan kehebatan mereka dan berkiprah di luar negeri.
Tahukah anda, negara kita ternyata
memiliki banyak sosok ilmuwan yang memiliki kecerdasan luar biasa.
Berbagai penelitian dan penemuan telah mereka lakukan. Hasil temuan
mereka pun mendapat apresiasi mengagumkan di negeri orang. Tulisan ini
sengaja dibuat untuk mengenal lebih dekat para ilmuwan, di mana mereka
justru lebih terkenal di negara lain ketimbang di negara kelahiran
mereka sendiri.
Seandainya negara kita bisa memberikan
suatu penghargaan atau apresiasi atas jerih payah yang telah mereka
lakukan. Para Ilmuwan ini adalah asset besar negara kita. Ilmu yang
mereka miliki seharusnya diturunkan kepada generasi penerus bangsa ini.
Sudah sepantasnya bila mendapatkan apresiasi atas temuan mereka yang
sangat bermanfaat. Lihatlah, di negara lain mereka justru mendapatkan
berbagai penghargaan atas keberhasilan mereka tersebut.
Berikut ini adalah sejumlah ilmuwan
Indonesia yang telah memberikan bukti atas usaha mereka dalam
menghasilkan sebuah temuan yang menakjubkan:
1. Prof . Dr. Mezak Arnold Ratag, Penemu Planetary Nebula Cluster.
Astronom
lulusan ITB Bandung ini namanya telah diabadikan di 120 Planetary
Nebula Cluster, termasuk Ratag-Ziljstra-Pottasch-Menzies dan
Ratag-Pottasch cluster, yang telah ia temukan. The International
Astronomical Union begitu menghargai karyanya pada Planetary Nebula yang
merupakan sebuah langkah maju yang besar dalam ilmu pengetahuan. Ia
juga menerima penghargaan tertinggi untuk kepeloporan kerjanya dalam
model iklim.
Prof. Mezak juga bekerja sebagai
Direktur Biro Meteorologi Bahasa Indonesia, Klimatologi dan Geofisika.
Selain itu ia juga peneliti dalam Biro Penerbangan dan Antariksa
Nasional.
Pada tahun 1988 Universitas Kerajaan
Belanda di Groningen, Rijksuniversiteit te Groningen membolehkan Mezak
untuk menempuh ujian doktoral (magister). Pada Juni 1991 Mezak Ratag
memperoleh gelar doktor (summos honoris) dengan disertasi yang berjudul
“A Study of Galactic Bulge Planetary Nebulae”.
Mezak telah mempublikasikan lebih dari
100 karya ilmiah nasional dan internasional. Ratusan Planetary Nebulae
(PN) baru telah ditemukannya. Temuan PN tersebut diterbitkan oleh
Observatorium Strasbourg. Lebih dari 100 international citations tentang
karya-karya ilmiahnya dapat dijumpai dalam berbagai jurnal, buku, dan
prosiding internasional.
2. Josaphat T.S Sumantyo, Penemu Radar 3 Dimensi
Dengan
totalitas dan dedikasinya di bidang antena, sensor, dan radar, membuat
Josh meraih berbagai penghargaan dari Chiba University, antara lain dari
Nanohana Venture Competition Award, Nanohana Competition Award hingga
Chiba University President Award.
Josh juga pernah meraih penghargaan The Society of Instrument and Control Engineers (SICE) Remote Sensing Division Award. Anggota dari Society of Instrument and Control Engineers (SICE)
sendiri adalah lembaga-lembaga besar seperti JAXA (lembaga antariksa
Jepang), NICT (Institut Nasional Teknologi Informasi dan Komunikasi
Jepang), NIES (Institut Nasional Studi Lingkungan), ISAS (Institut Ilmu
Pengetahuan Antariksa dan Astronotikal), universitas-universitas, serta
perusahaan-perusahaan besar perlengkapan antariksa Jepang mulai dari
Mitsubishi, Toshiba, dan NEC.
Ratusan paten milik Josh tersebar di 118
negara di dunia. Karya Josh di masa depan akan diaplikasikan di bidang
telekomunikasi, transportasi, penginderaan jarak jauh, kesehatan maupun
militer. 1200 unit Radar cuaca buatan Josh akan digunakan oleh
perusahaan Jepang Weathernews Corporation untuk mengirimkan informasi
prediksi cuaca 3 Dimensi. Informasi ini nantinya juga digunakan untuk
navigasi pesawat, kapal (alat transportasi massa) dengan lebih akurat.
Josh juga membuat radar anti bajak laut bagi kapal-kapal skala besar
Jepang, maupun radar-radar untuk mobil yang melewati daerah bersalju.
Riset Josh yang sangat bermanfaat dengan
kebutuhan Indonesia antara lain di bidang pemantauan pergerakan lempeng
serta pemantauan musibah dan manajemen bencana berbasis penginderaan
jarak jauh. Riset ini dapat digunakan memonitor pergerakan permukaan
bumi dengan akurasi milimeter, memonitor pergeseran permukaan bumi
sebelum tanah longsor terjadi, atau pergerakan sesar atau patahan.
Namun sayangnya, bukan Indonesia yang
memanfaatkan riset Josh, justru negeri Jiran lah yang menikmati hasil
penelitian ini. Riset ini kemudian menjadi salah satu bantuan teknologi
pemerintah Jepang kepada pemerintah Malaysia untuk memetakan
daerah-daerah rawan tanah longsor di Semanjung Malaysia yang proyeknya
akan dilaksanakan selama tahun 2011-2016, melalui program Official
Development Assistance (ODA).
3. Dr. Johny Setiawan, Penemu Planet Baru HIP 13044b
Dr.
Johny Setiawan merupakan lulusan doktor termuda di Albert-Ludwigs
Universitas, Greiburg, Jerman. Ia adalah satu-satunya ilmuwan non Jerman
yang menjadi Ketua Tim Proyek Max Planck Institute for Astronomy, di Heidelberg, Baden-Württemberg, Jerman sejak tahun 2003.
Profesinya sebagai seorang astronom
menuntutnya untuk sering melakukan kegiatan pengamatan dari ketinggian
2400 M di tengah gurun terpencil bersuhu ekstrim, di Observatorium La
Silla Chile, yang merupakan salah satu observatorium terbesar dunia di
belahan bumi bagian selatan.
Hasil temuannya yang menakjubkan
mendapatkan apresiasi dari para ilmuwan setempat. Terlebih saat ia
berhasil menemukan planet baru dari luar tata surya (exoplanet)
baru-baru ini. Yang lebih menimbulkan decak kagum terhadapnya adalah
karena ia telah banyak menemukan planet, mulai dari planet bernama HD
47536 b, HD 11977 b, HD 47536 c, HD 70573 b, HD 110014 b, hingga TW
Hydrae b. Ia juga mempublikasikan bahwa planet tersebut tak hanya
berasal dari luar sistem tata surya, tapi diperkirakan berasal dari luar
galaksi Bima Sakti. Planet itu diberi nama HIP 13044 b. Planet yang
jaraknya 2000 tahun cahaya dari bumi itu, masih bertahan hidup dan
diperkirakan yang masih tersisa dari fosil galaksi lain yang telah
punah, yakni fosil galaksi Helmi Stream, yang tersedot ke galaksi Bima
Sakti antara 6-9 miliar tahun lalu, dan berada di sebelah selatan
konstelasi Fornax.
Dr. Johny dan timnya berhasil menemukan
planet ini dengan menggunakan spektografi beresolusi tinggi FEROS, pada
teleskop MPG/ ESO yang bergaris tengah 2.2 m di observatorium La Silla
Chile. Dengan mengamati pergerakan radial bintang HIP 13044,
diperkirakan planet HIP 13044 b mengitari bintang induknya itu dengan
periode orbit 16,2 hari.
Nama Dr. Johny begitu terkenal di negeri
orang untuk bidang astronomi internasional. Mulai dari Time, New York
Times, BBC, National Geographic, atau Space.com. Penemuan Johny juga
telah dipublikasikan di Science, Nature, maupun Astronomy and
Astrophysics.
4. Dr. Warsito, Penemu Alat Pemindai (ECVT) 4 Dimensi
Dr. Warsito adalah seorang penemu yang mengembangkan teknologi pemindai atau Electrical Capacitance Volume Tomography (ECVT)
4 Dimensi pertama di dunia. Ilmuwan muslim dari Indonesia ini juga
sebagai pemilik paten ECVT yang didaftarkan di dokumen paten Amerika
Serikat. Teknologi tersebut kini dipakai oleh Badan Antariksa Amerika
Serikat atau National Aeronautics and Space Administration (NASA).
ECVT adalah satu-satunya teknologi yang mampu melakukan pemindaian dari
dalam dinding ke luar dinding seperti pada pesawat ulang-alik.
Teknologi ECVT ini ditemukan saat
Warsito melakukan studi akhir ketika menjadi mahasiswa S1 di Fakultas
Teknik Jurusan Teknik Kimia, Universitas Shizuoka, Jepang, tahun 1991.
Ketika itu Warsito ingin membuat teknologi yang mampu melihat atau
tembus dinding reaktor yang terbuat dari baja atau obyek yang opaque
(tak tembus cahaya).
Semasa sekolah Warsito yang kelahiran
Solo, 16 Mei 1967 ini merupakan siswa cemerlang. Ia pindah ke Yogyakarta
setelah diterima sebagai mahasiswa Teknik Kimia UGM. Namun karena
terbentur biaya ia gagal melanjutkan kuliahnya. Kemudian ia merantau ke
Jakarta dan mendapat beasiswa di Universitas Shizuoka, Jepang, 1987.
Tahun 1997 ia meraih gelar tertinggi akademik (S3). Pada 1999 Warsito
hijrah ke Amerika Serikat. Dengan riset tomografi yang dimilikinya,
Warsito menjadi satu dari 15 peneliti papan atas dunia di Industrial
Research Consortium, Ohio State University. Riset tersebut menjadi acuan
sejumlah perusahaan minyak raksasa di dunia seperti ExxonMobil, Conoco
Phillips, dan Shell.
Warsito
dipercaya menjadi pembicara utama dalam sejumlah forum ilmuwan dunia.
Momen yang tak terlupakan baginya adalah ketika ia mempresentasikan sesi
paripurna (plenary lecture) di Konferensi Internasional tentang Reactor
Engineering di Delft, Belanda pada tahun 1999. Sesi paripurna tersebut
merupakan konferensi besar yang dihadiri pakar dan professor dari
seluruh dunia. Ia merasa bahwa tak ada penghargaan yang lebih besar dari
itu dalam hidupnya.
Tahun 2003 - 2006 ia wara wiri Amerika -
Indonesia. Kemudian ia memutuskan kembali ke Indonesia. Ia
mengembangkan teknologi ECVT di Center for Tomography Research
Laboratory (CTECH Labs) yaitu sebuah laboratorium pada ruang berukuran 5
x 8 meter di sebuah ruko berlantai dua di Tangerang. Cita-cita Warsito
ingin membangun institusi riset yang tidak kalah dengan institusi riset
mana pun di dunia, dan itu adalah di Indonesia.
5. Dr. Eng. Eniya Listiani Dewi, Penemu Membran Sel Bahan Bakar
Dr.
Eng. Eniya Listiani Dewi, seorang peneliti madya pada Pusat Teknologi
Material, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Doctor of
Engineering lulusan dari Waseda University Tokyo Jepang ini memilih
bidang Kimia Terapan, dan mendalami studi tentang polimer dan katalis
untuk fuel cell. Pada tahun 2003 ia mendapat penghargaan Mizuno Award,
dan Koukenkai Award dari universitasnya berkat hasil temuannya berupa
katalis fuel cell baru yang menggunakan unsur Vanadium.
Fuel cell adalah sel elektrokimia
semacam baterai atau aki, yang dapat mengkonversi sumber bahan bakar
(bisa berupa hidrogen atau hidrokarbon) menjadi listrik arus searah
(DC). Fuel cell bisa digunakan menyuplai listrik rumah tangga, mobil,
motor, dan lain-lain. Hasil temuan Dr. Eniya Dewi yang mutahir adalah
sebuah produk membran polimer untuk fuel cell yang lebih efisien dari
membran yang tersedia di pasaran. Produk membran itu dia namakan
ThamriON. Produk itu memiliki efisiensi lebih baik, karena mampu
mengurangi kebocoran hingga 50%. Dari sisi harga, ThamriON jauh lebih
bersaing. Bila membran Nafion keluaran DuPont dijual sekitar US$.1,000
atau sekitar Rp.9 juta per meter persegi, ThamriOn hanya seharga Rp.2000
per meter persegi. Nama ThamriON sendiri merupakan gabungan dari kata
‘Thamrin’ dan ‘Ion’, dipilih untuk mengabadikan alamat kantor Dewi,
Gedung BPPT yang terletak di Jl. MH Thamrin Jakarta Pusat.
Pada tahun 2009 metode penambahan
nanopartikel itu berhasil meraih penghargaan Asia Excellence Award dari
The Society of Polymer Science Japan (SPSJ). Tahun berikutnya, ThamriON
dipatenkan dan berhasil meraih penghargaan Inovasi HKI 2010 Award dari
Direktorat Jendral HKI.
6. Prof. Dr. Khoirul Anwar, Penemu sistem telekomunikasi 4G berbasis OFDM (Orthogonal Frequency Division Multiplexing).
Prof. Dr. Khoirul Anwar pemilik paten di Jepang atas sistem telekomunikasi 4G berbasis OFDM (Orthogonal Frequency Division Multiplexing) yang kini bekerja di Nara Institute of Science and Technology,
Jepang. Dia mengurangi daya transmisi pada orthogonal frequency
division multiplexing. Hasilnya, kecepatan data yang dikirim bukan
menurun seperti lazimnya, melainkan malah meningkat. Hasil penelitiannya
tersebut mampu menurunkan power sampai 5dB=100 ribu kali lebih kecil
dari yang diperlukan sebelumnya.
Tahun 2006 ia juga menemukan cara
mengurangi daya transmisi pada sistem multicarrier seperti Orthogonal
frequency-division multiplexing (OFDM) dan Multi-carrier code division
multiple access (MC-CDMA), yaitu dengan memperkenalkan spreading code
menggunakan Fast Fourier Transform sehingga kompleksitasnya menjadi
sangat rendah sehingga bisa mengurangi fluktuasi daya. Teknik ini
kemudian dipakai oleh perusahaan satelit Jepang.
Saat ini, Prof. Khoirul tinggal bersama
isteri dan 3 putranya di Nomi, Ishikawa. Ke-3 anaknya memenuhi formula
deret aritmatika dengan beda 1.5 tahun. Sukses di negeri orang tak
membuatnya lupa dengan tanah kelahiran. Suatu saat ia akan pulang ke
Indonesia setelah meraih banyak ilmu di luar negeri.
7. Dr. Yogi Ahmad Erlangga, Penemu rumus matematika berdasarkan persamaan Herlmholtz guna pencarian sumber minyak bumi.
Yogi
Ahmad Erlangga seorang ilmuwan muda Indonesia meraih gelar doktor dari
Universitas Teknologi Delft, Belanda pada usia yang terbilang muda, 31
tahun. Dia sangat mencintai matematika. Di negeri kincir angin itu, dia
dinobatkan sebagai doktor matematika terapan. Dan matematika itulah yang
melambungkan Yogi Erlangga ke perusahaan minyak raksasa dunia. Rumus
matematika yang dikembangkannya membuat ribuan insinyur minyak bisa
bekerja cepat. Akurasi tinggi.
Yogi berhasil memecahkan rumus
matematika berdasarkan “Persamaan Helmholtz”. Keberhasilan Yogi tersebut
merupakan tonggak penting bagi ilmu pengetahuan dan pengembangan
teknologi. Hasil temuannya dapat diterapkan dalam sejumlah bidang. Salah
satunya untuk mempercepat pencarian sumber-sumber minyak bumi. Ia mampu
memecahkan Persamaan Helmholtz yang rumit, setelah mendalaminya selama 4
tahun.
Dengan riset yang menghabiskan dana
hampir Rp. 6 milyar itu, ia berhasil mengembangkan metode perhitungan
lebih cepat. Penelitian Yogi adalah murni Matematika. Dia berhasil
mengembangkan suatu metode kalkulasi, yang memungkinkan sistem komputer
untuk menyelesaikan ekuasi krusial secara lebih cepat. Padahal,
persamaan krusial itu sulit diatasi oleh sistem komputer yang dipakai
perusahaan-perusahaan minyak. Penelitian Yogi itu didasarkan pada
“Ekuasi Helhmholtz”.
Menurut Yogi, Shell selama ini harus
menggunakan rumus Helmholtz berkali-kali. Bahkan, kadang-kadang harus
ribuan kali untuk survei hanya di satu daerah saja. Itu sangat mahal
dari sisi biaya, waktu dan hardware. Yogi punya persamaan matematika
dalam bentuk diferensial. Yang dilakukan Yogi untuk memecahkan rumus
Helmholtz itu adalah mengubah persamaan ini menjadi persamaan linear
aljabar biasa. Begitu didapatkan, maka ia pecahkan dengan metode direct
atau literasi.
Rumus matematika temuan Yogi itu juga
dipakai untuk teknologi keping Blue-Ray. Keping itu bisa memuat data
komputer dalam jumlah yang jauh lebih besar. Rumus itu juga mempermudah
cara kerja radar di dunia penerbangan.
8. Ir. R. Mulyoto Pangestu, Penemu Teknis Ekonomis Pembekuan Sperma Hewan.
Ir.
R. Mulyoto Pangestu, Dip. Agr. Sc, Dosen Fisiologi Reproduksi dan
Inseminasi Buatan Fakultas Peternakan UNSOED Purwokerto berhasil
menemukan metode pengeringan dan penyimpanan sperma yang sangat berguna
bagi para ilmuwan dan dokter di negara berkembang yang kekurangan biaya
untuk mengadakan peralatan pendingin. Peralatan cold storage untuk
menyimpan bahan organis biasanya membutuhkan nitrogen cair sebagai bahan
pendingin (coolant). Selain tangkinya mahal dan makan tempat, nitrogen
cair sangat berbahaya. Agar tetap cair, nitrogen jenis ini harus
disimpan di bawah suhu minus 196 derajat Celcius.
Hasil temuan Mulyoto justru merupakan
cara untuk mengeringkan dan menyimpan sperma dalam suhu ruangan karena
ia memakai jasa gas nitrogen. Yang luar biasa temuan Mulyoto ini
mengalahkan ratusan pesaingnya dari berbagai negara Asia Pasifik. Bahan
yang dipakainya sangat murah hanya sekitar Rp 2.500,-. Bahan yang
dipakai adalah 2 lapis tabung plastik mini (ukuran 0,250 ml dan 0,500
ml) yang disegel dengan panas (heat-sealed), kemudian dibungkus lagi
dengan aluminium foil. Sperma yang telah dikeringkan di penyimpanan
dalam suhu ruang, dapat bertahan bertahun-tahun dalam kondisi prima.
Sperma itu dapat dipakai untuk fertiliasi (pembuahan buatan) berikutnya.
Atas hasil penemuan itu Mulyoto meraih penghargaan tertinggi (Gold Award) dalam kompetisi Young Inventors Awards, yang diadakan majalah The Far Eastern Economic Review (FEER) dan Hewlett-Packard Asia Pasifik.
Mulyoto tidak mencoba metodenya itu
untuk sperma manusia karena ethics permit yang dimilikinya hanyalah
untuk hewan. Sperma yang sudah dikeringkan berasal dari mencit (mice),
marmoset (sejenis kera), dan juga wombat (binatang asli Australia).
Menurut Mulyoto, yang sudah digunakan untuk pembuahan adalah sperma
mencit dan marmoset yang mampu membentuk embrio. Bahkan mencit sudah
berhasil melahirkan anak mencit.
Temuan Mulyoto tersebut saat ini sedang
dalam proses dipatenkan di Australia. Paten temuan Mulyoto ini nantinya
menjadi milik Universitas Monash, namun namanya akan tercatat sebagai
inventornya.
Kiprah para ilmuwan
Indonesia ini di negeri orang sungguh sangat mengagumkan dengan
mendapatkan begitu banyak penghargaan. Seharusnya orang-orang hebat
seperti mereka mendapatkan apresiasi di negeri sendiri karena dengan
kecerdasan mereka lah nama Indonesia menjadi harum dan diperhitungkan di
dunia Internasional.
Masih banyak ilmuwan Indonesia yang saat
ini menuntut ilmu dan berkarir di berbagai negara di belahan dunia.
Mereka cenderung lebih memilih untuk menjalani kehidupan dengan profesi
mereka saat ini sebagai ilmuwan. Beragam alasan mereka untuk tidak
kembali ke tanah air, salah satunya adalah peran dan keahlian ilmuwan
sangat dihargai di sana. Selain itu kurangnya kesadaran perusahaan di
Indonesia untuk berkolaborasi dengan universitas atau lembaga penelitian
untuk menunjang riset mereka. Hebatnya di negara lain juga menyediakan
dana riset besar, akses buku dan jurnal penting, serta fasilitas riset
yang kondusif untuk inovasi riset dan teknologi. Semoga Indonesia bisa
belajar menghargai peran seorang ilmuwan seperti halnya negara lain
menghargai kecerdasan ilmuwan sekalipun mereka bukan warganegaranya.
Jembatan merah putih di ambon
Kementerian Pekerjaan Umum menargetkan operasional jembatan Merah Putih
(JMP) selambat-lambatnya pada Oktober 2014, menyusul progres pembangunan
yang telah mencapai 78%.
Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional IX Pattisiana Jefrey Recky mengatakan saat ini JMP masih dalam tahap konstruksi dan sedang dilakukan upaya percepatan.
"Progres pembangunan paket bentang tengah sudah 78%, sedangkan bentang pendekat 17%," katanya dalam keterangan tertulis, Selasa (28/5).
Jembatan yang membentangi Teluk Dalam Pulau Ambon untuk menghubungkan Kecamatan Teluk Ambon sisi selatan dan ssi utara ini dapat dipakai pada awal kuartal IV 2013.
“Diharapkan pada Oktober atau September 2014 sudah bisa selesai dan dipergunakan," tambahnya.
Memiliki panjang 1060 m, jembatan itu dibiayai oleh dana APBN senilai Rp769 miliar untuk pengerjaan fisiknya. Adapun pembebasan lahannya dialokasikan dari APBD sebesar Rp25 miliar.
Dengan adanya JMP, maka dapat memperpendek jarak tempuh ke pintu keluar Bandara Pattimura, serta kawasan Jazirah Leihitu Kabupaten Maluku Tengah.
Selain itu, pembangunan JMP ini juga diharapkan bisa meningkatkan kesejahteraan rakyat di sekitarnya.
Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional IX Pattisiana Jefrey Recky mengatakan saat ini JMP masih dalam tahap konstruksi dan sedang dilakukan upaya percepatan.
"Progres pembangunan paket bentang tengah sudah 78%, sedangkan bentang pendekat 17%," katanya dalam keterangan tertulis, Selasa (28/5).
Jembatan yang membentangi Teluk Dalam Pulau Ambon untuk menghubungkan Kecamatan Teluk Ambon sisi selatan dan ssi utara ini dapat dipakai pada awal kuartal IV 2013.
“Diharapkan pada Oktober atau September 2014 sudah bisa selesai dan dipergunakan," tambahnya.
Memiliki panjang 1060 m, jembatan itu dibiayai oleh dana APBN senilai Rp769 miliar untuk pengerjaan fisiknya. Adapun pembebasan lahannya dialokasikan dari APBD sebesar Rp25 miliar.
Dengan adanya JMP, maka dapat memperpendek jarak tempuh ke pintu keluar Bandara Pattimura, serta kawasan Jazirah Leihitu Kabupaten Maluku Tengah.
Selain itu, pembangunan JMP ini juga diharapkan bisa meningkatkan kesejahteraan rakyat di sekitarnya.
kami sangat mencintaimu , saudarah kami di papua..
Tidak hanya bertugas mengamankan wilayah operasinya, anggota Tentara Nasional Indonesia yang bertugas di Kabupaten Puncak Jaya, Papua juga merangkap sebagai pengajar pada sekolah-sekolah di wilayah tersebut.
Hal serupa juga terjadi di pelosok Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur, tepatnya di perbatasan Indonesia dengan Malaysia. Prajurit TNI AD dari Batalyon 413 Kostrad yang bertugas di wilayah itu mengemban dua misi sekaligus, yaitu menjaga pos-pos perbatasan dan mengajar di sekolah-sekolah.
Komandan Yonif (Danyonif) 751 Raider Letkol Inf Luqman Arief mengungkapkan anggotanya juga tergerak untuk memberikan pengetahuan kepada warga setempat, khususnya yang masih anak-anak atau usia sekolah.
“Memang bukan protab kami memberikan pendidikan, tetapi melihat terkadang masih ada daerah yang kekurangan tenaga pendidik, maka tidak ada salahnya anggota kami membantu,” ujarnya.
Danyonif menjelaskan biasanya anggotanya yang juga merangkap sebagai guru, memiliki masa tugas selama 6-8 bulan. Jadwal mengajarnya pun tidak setiap hari, tetapi seminggu hanya 2-3 kali.
“Hal yang jelas ditekankan disini bahwa anggota diharapkan tidak mengesampingkan tugas pokoknya dalam menjaga keamanan,” katanya.
Di wilayah perbatasan Indonesia dengan Malaysia, prajurit Batalyon 413 Kostrad yang bertugas menjaga perbatasan mulai April 2012, merangkap sebagai pengajar pada salah satu sekolah filial (kelas jauh) dari SD Negeri 012 Seimenggaris, Kecamatan Seimenggaris, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur.
Suanta, prajurit yang ditugaskan di Pos Bersama TNI dengan Tentara Darat Diraja Malaysia ini mengajar pada hari Senin hingga Sabtu, dan setiap Sabtu sore kembali ke posnya untuk menjalankan tugas pokok sebagai penjaga keamanan perbatasan.
TNI-AD yang pernah ditugaskan sebagai Satgas Pamtas Indonesia-Papua Nugini di Provinsi Papua pada 2003, juga menjadi pengajar di sekolah perbatasan di sana.
Di Nunukan, Suanta yang ditugaskan mengajar di sekolah di Kampung Perum Desa Tabur Lestari tersebut, sebenarnya tidak sendiri. Tugas yang sama juga diemban temannya, Prajurit Satu (Pratu) Danang.
Menurut Suanta, kadangkala ketika sedang mengajar, dia terkena air kencing dari atas rumah. “Bagitulah suka-dukanya. Sasananya memang sudah demikian, risiko belajar-mengajar di bawah kolong rumah panggung warga,” katanya.
Kelas jauh tempatnya mengajar terdiri atas tiga kelas dengan jumlah murid sebanyak 50 orang, yaitu Kelas I, II dan III. Meja dan bangku belajarnya pun merupakan bantuan atau swadaya masyarakat setempat.
Fasilitas mengajar lainnya, seperti buku hampir tidak ada, kecuali pegangan guru. Karena itu, metode mengajar yang digunakannya setiap hari adalah menulis di papan tulis lalu murid menyalin ke buku pelajaran.
Selain tidak memiliki sarana prasarana belajar, sekolah tersebut hanya diajar oleh empat orang guru (di luar Suanta dan rekannya), yang semuanya masih berstatus honorer, tanpa pernah mendapatkan gaji dari pemerintah.
Guru-guru di sekolah itu sekadar mengabdikan diri, hanya karena keprihatinannya terhadap masa depan anak-anak di kampung itu.
Kadangkala juga, guru honorer tidak masuk mengajar karena mereka harus bekerja di kebunnya demi menutupi kebutuhan keluarganya sehari-hari.
Suanta menceritakan, setiap hari dia mengajar untuk semua mata pelajaran, kecuali bidang studi agama yang punya guru khusus. “Yang membuat saya bersemangat, anak-anak di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia itu memiliki antusiasme yang tinggi dalam menuntut ilmu,” katanya.
Hal serupa juga terjadi di pelosok Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur, tepatnya di perbatasan Indonesia dengan Malaysia. Prajurit TNI AD dari Batalyon 413 Kostrad yang bertugas di wilayah itu mengemban dua misi sekaligus, yaitu menjaga pos-pos perbatasan dan mengajar di sekolah-sekolah.
Komandan Yonif (Danyonif) 751 Raider Letkol Inf Luqman Arief mengungkapkan anggotanya juga tergerak untuk memberikan pengetahuan kepada warga setempat, khususnya yang masih anak-anak atau usia sekolah.
“Memang bukan protab kami memberikan pendidikan, tetapi melihat terkadang masih ada daerah yang kekurangan tenaga pendidik, maka tidak ada salahnya anggota kami membantu,” ujarnya.
Danyonif menjelaskan biasanya anggotanya yang juga merangkap sebagai guru, memiliki masa tugas selama 6-8 bulan. Jadwal mengajarnya pun tidak setiap hari, tetapi seminggu hanya 2-3 kali.
“Hal yang jelas ditekankan disini bahwa anggota diharapkan tidak mengesampingkan tugas pokoknya dalam menjaga keamanan,” katanya.
Di wilayah perbatasan Indonesia dengan Malaysia, prajurit Batalyon 413 Kostrad yang bertugas menjaga perbatasan mulai April 2012, merangkap sebagai pengajar pada salah satu sekolah filial (kelas jauh) dari SD Negeri 012 Seimenggaris, Kecamatan Seimenggaris, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur.
Suanta, prajurit yang ditugaskan di Pos Bersama TNI dengan Tentara Darat Diraja Malaysia ini mengajar pada hari Senin hingga Sabtu, dan setiap Sabtu sore kembali ke posnya untuk menjalankan tugas pokok sebagai penjaga keamanan perbatasan.
TNI-AD yang pernah ditugaskan sebagai Satgas Pamtas Indonesia-Papua Nugini di Provinsi Papua pada 2003, juga menjadi pengajar di sekolah perbatasan di sana.
Di Nunukan, Suanta yang ditugaskan mengajar di sekolah di Kampung Perum Desa Tabur Lestari tersebut, sebenarnya tidak sendiri. Tugas yang sama juga diemban temannya, Prajurit Satu (Pratu) Danang.
Menurut Suanta, kadangkala ketika sedang mengajar, dia terkena air kencing dari atas rumah. “Bagitulah suka-dukanya. Sasananya memang sudah demikian, risiko belajar-mengajar di bawah kolong rumah panggung warga,” katanya.
Kelas jauh tempatnya mengajar terdiri atas tiga kelas dengan jumlah murid sebanyak 50 orang, yaitu Kelas I, II dan III. Meja dan bangku belajarnya pun merupakan bantuan atau swadaya masyarakat setempat.
Fasilitas mengajar lainnya, seperti buku hampir tidak ada, kecuali pegangan guru. Karena itu, metode mengajar yang digunakannya setiap hari adalah menulis di papan tulis lalu murid menyalin ke buku pelajaran.
Selain tidak memiliki sarana prasarana belajar, sekolah tersebut hanya diajar oleh empat orang guru (di luar Suanta dan rekannya), yang semuanya masih berstatus honorer, tanpa pernah mendapatkan gaji dari pemerintah.
Guru-guru di sekolah itu sekadar mengabdikan diri, hanya karena keprihatinannya terhadap masa depan anak-anak di kampung itu.
Kadangkala juga, guru honorer tidak masuk mengajar karena mereka harus bekerja di kebunnya demi menutupi kebutuhan keluarganya sehari-hari.
Suanta menceritakan, setiap hari dia mengajar untuk semua mata pelajaran, kecuali bidang studi agama yang punya guru khusus. “Yang membuat saya bersemangat, anak-anak di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia itu memiliki antusiasme yang tinggi dalam menuntut ilmu,” katanya.
Apakabar kalimantan utara, semoga menjadi propinsi yang maju
Kalimantan Utara adalah sebuah provinsi di Indonesia yang terletak di bagian utara Pulau Kalimantan. Provinsi ini berbatasan langsung dengan negara tetangga, yaitu Negara Bagian Sabah dan Serawak, Malaysia Timur.
Saat ini, Kalimantan Utara merupakan provinsi termuda Indonesia, resmi disahkan menjadi provinsi dalam rapat paripurna DPR pada tanggal 25 Oktober 2012 berdasarkan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2012.[1] Infrastruktur pemerintahan Kalimantan Utara masih dalam proses persiapan yang direncanakan akan berlangsung paling lama dalam 1 tahun.
Dalam sejarahnya negeri-negeri di bagian utara pulau Kalimantan, yang meliputi Sarawak, Brunei dan sebagian besar Sabah adalah wilayah mandala negara Kesultanan Brunei yang berbatasan dengan mandala negara Kerajaan Berau.[2] Sejak masa Hindu hingga masa sebelum terbentuknya Kesultanan Bulungan, daerah yang sekarang menjadi wilayah provinsi Kalimantan Utara hingga daerah Kinabatangan di Sabah bagian Timur merupakan wilayah mandala negara Berau yang dinamakan Nagri Marancang.[3]
Namun belakangan sebagian utara Nagri Marancang (alias Sabah bagian Timur) terlepas dari Berau karena diklaim sebagai wilayah mandala Brunei, kemudian oleh Brunei dihadiahkan kepada Kesultanan Sulu dan Suku Suluk mulai bermukim di sebagian wilayah tersebut.[4] Kemudian kolonial Inggris menguasai sebelah utara Nagri Marancang dan Belanda menguasai sebelah selatan Nagri Marancang (sekarang provinsi Kaltara)
untuk sementara gubernur kalimantan utara di jabat oleh. Irianto Lambrie ditunjuk sebagai Pejabat Gubernur Kalimantan Utara sesuai rekomendasi dari Pemerintah Daerah Kalimantan Timur.
Ia kemudian menargetkan selama tiga bulan untuk membuat Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara bisa berjalan normal.[3] Sebagai pejabat gubernur, ia memiliki pekerjaan rumah pembentukan Satuan Kerja Pemerintah Daerah (SKPD) pada 2013, pembentukan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) pada 2014, penyelenggaraan pemilihan gubernur dan wakil gubernur pada 2015, dan penyelesaian tapal batas Kalimantan Utara dengan Kalimantan Timur yang belum jelas
Diskominfo Tarakan, Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) yang tidak lama lagi terbentuk pemerintahan resminya, harus sudah mulai memikirkan sektor kepariwisataannya. Karena provinsi baru tersebut miliki kekayaan potensi pariwisata dari negri jiran sekitarnya, seperti Malaysia Vietnam dan Filiphina, tinggal bagaimana mengemasnya agar lebih menarik/ menyedot pelaku wisata domestik maupun internasional.
Hal tersebut dikemukakan oleh Ministry Of Tourism And Creative Economy RI, Raymond T Lesmana, saat berbincang – bincang di gedung Diskominfo, Kamis (23/11).
“Yang pertama kita (baca : Kaltara) punya potensi sebagai pintu masuk ke Indonesia, sementara ini kita ambil dari Negara tetangga kita yakni lewat Filiphina dan Vietnam yang belum maju, tapi akan maju,” terangnya.
“Dan yang sudah maju melalui kota Kinabalu, dimana mereka sudah menjadi kunjungan dunia, dan mereka itu stuck, mau kemana lagi kalau sudah berada di Kinabalu,” lanjutnya.
Kata Raymond, Dinas Pariwisata Provinsi Kaltara yang akan terbentuk nanti harus bisa melihat kesempatan ini untuk mempersiapkan diri, karena wilayah Kaltara ini mempunyai kekayaan sumber daya alam sepuluh kali lipat dari mereka.
“Kita punya sungai, kita punya pulau, kita punya danau, kita punya budaya, nah itu yang harus kita perjuangkan untuk mengantisipasi, kalau nanti Provinsi ini sudah terbentuk,” imbuh Raymond.
Kalau kita lihat saat ini, masalah tersebut belum terangkat sama sekali, dan bila kita menilik kembali ke Provinsi Kaltim, yang dikenal oleh pelaku pariwisata domestik maupun internasional adalah Berau, yakni Pulau Derawan. Jadi sudah saatnya Kaltara mempersiapkan diri disektor pariwisata.
“Persiapan tidak menunggu harus resmi, itukan idealisme - idealisme yang bisa kita gabungkan, kita silaturahmikan bersama dan nanti pada saatnya sudah tersedia, jangan tunggu nanti,” pungkas lelaki yang berkantor di kawasan Medan Merdeka Barat, Jakarta tersebut.
Berbisnis dari Menulis? Kenapa Tidak?
Berbisnis dengan mengerjakan sesuatu
yang disenangi? Tentu menyenangkan. Karena yang dilakukan merupakan
hobi, ‘bisnis’ tidak terasa sebagai pekerjaan. Bisnis bisa dilakukan
sambil bersenang-senang.
Salah satu potensi bisnis yang berangkat
dari hobi adalah menulis. Selain relatif mudah (karena bagi mereka yang
senang nulis, menulis itu memang amat sangat mudah), risiko bisnis juga
kecil. Dan potensi keuntungan bisa berlipat ganda.
Dengan makin majunya teknologi, ada
beragam tipe bisnis yang bisa ditekuni, yang semuanya berawal dari
kesenangan menulis. Apa saja itu?
Berbisnis di blog
Dengan adanya internet, kini siapapun
bisa ‘menulis’ di dunia maya. Sarana yang tersedia lumayan banyak, baik
yang gratisan maupun berbayar. Menulis di blog, kini jadi tren baru,
karena memberikan ruang yang cukup besar. Apalagi, tulisan di blog akan
tersimpan selamanya.
Jika dikelola dengan profesional, dan
dengan cara yang tepat, blog bisa menjadi bisnis yang menggiurkan. Ada
banyak contoh blog yang menjadi industri raksasa. Salah satunya
mashable.com. Mashable pertama kali diluncurkan pada tahun 2005 oleh
remaja berusia 19 tahun bernama Pete Cashmore. Pete mengisi blognya
dengan berbagai ulasan terkait teknologi. Pete mengupdate blognya
beberapa kali sehari.
Karena tulisan-tulisan di blog itu unik
dan selalu menawarkan hal yang baru, lama-lama mashable mulai dikenal
orang. Pembaca semakin banyak. Ketika pendapatan dari iklan mencapai
$3000 per bulan, Pete pun merekrut seorang penulis untuk membantunya.
Bertahun-tahun kemudian mashable menjadi raksasa dan dikelola layaknya
media massa profesional. Yakni punya Chief Operating Officer & Chief
Financial Officer, Chief Marketing Officer, Chief Strategy Officer,
Chief Technology Officer, dan punya Editor in Chief, Editorial Projects,
Editorial Director, Managing Editor dan sekitar 80 karyawan. Mashable
kini menjadi salah satu blog berpenghasilan tertinggi di dunia.
Di Indonesia, mulai banyak blog yang
dikelola dengan profesional dan sudah menjadi bisnis. Biasanya yang
dilakukan adalah memilih tema yang disukai dan secara berkala mengisi
blog dengan informasi atau ulasan yang menarik dan bermanfaat. Jika
pembaca blog sudah banyak, iklan akan datang dengan sendirinya.
Menulis buku
Jika menulis di blog merupakan metode
yang tergolong baru, bisnis dengan menulis yang tergolong konvensional
adalan menerbitkan buku. Ada dua pendekatan yang bisa dilakukan.
Pendekatan pertama, mengirimkan naskah ke penerbit terkemuka. Pendekatan
kedua, menerbitkan sendiri.
Pendekatan pertama tergolong
gampang-gampang susah. Jika tema yang dipilih menarik dan bisa dijual,
dan jika dipaparkan dengan mengalir, biasanya naskah akan disetujui
penerbit. Mengirimkan naskah ke penerbit sama sekali tidak membutuhkan
dana. Beberapa naskah buku yang diterbitkan penerbit Elex Media
Komputindo saya kirim melalui email. Naskah yang dikirim akan diperiksa
kelayakannya oleh editor. Biasanya waktu yang dibutuhkan sekitar 1-3
bulan.
Jika bukunya disetujui penerbit dan
layak terbit, kita tinggal menunggu royalti. Penerbit besar seperti Elex
biasanya memberikan uang muka. Selanjutnya, royalti akan diberikan dua
kali setahun, setiap bulan Februari dan Agustus. Tentu, royalti akan
semakin besar jika jumlah judul buku yang dicetak semakin banyak.
Apalagi jika bukunya laris dan dicetak berkali-kali.
Jika ingin menerbitkan buku sendiri
(istilah kerennya self publishing), bisa memanfaatkan sejumlah situs
yang menjadi semacam perantara. Situs ini yang menerbitkan buku, dan
biasanya dicetak berdasarkan pesanan calon pembaca. Jika punya dana
berlebih, bisa mencetak sendiri.
Bersama Dee, di tahun 2010 saya pernah menerbitkan kumpulan tulisan di blog Rumah Kayu.
Buku kami cetak 5.000 eks, dan untuk distribusi kami menggunakan jasa
pihak ketiga. Walau gak laris-laris amat namun kami bisa balik modal,
dan juga bisa mendapatkan ‘royalti’ masing-masing belasan juta rupiah.
Lumayan. (Kami berencana menerbitkan buku kedua dan ketiga. Sayang
karena (sok) sibuk rencana itu tetap tinggal rencana. Maunya sih jika
sudah pensiun dari kerjaan kantoran kami akan menekuni dunia penerbitkan
lebih serius, hehehe).
Buku digital
Selain cetakan, buku juga bisa dijual
dalam format digital. Dengan munculnya tablet dan smartphone, pasar buku
digital kini terbuka luas.
Saya sudah menjual buku digital selang
setahun terakhir di Kindle Amazon. Dan potensi bisnisnya sangat luar
biasa. Dengan mengerjakan di sela-sela kerjaan kantoran, setiap bulan
saya kini mendapatkan ratusan dolar dan poundsterling.
Walaupun aku tidak ada anggaran khusus tapi aku terus membaca
rasanya ada yang kurang ketika aku melewati suatu hari tanpa membaca. ternyata survey tentang minat baca bangsa indonesia sangat kurang. padahal krisis bisa datang dan pergi. kita harus dapat membaca ini . dan seharus membaca jadi suatu kewajiban agar kita bisa mengalahkan kekurangan kita jika dibandingakan dengan bangsa lain.
Apa yang membuat Jepang jadi negara maju? Bukan
karena teknologi, tapi karena tingkat literasi masyarakatnya. Saat
Jepang memenangi pertempuran laut melawan Rusia di awal abad XX,
kemenangannya bukan didukung oleh teknologi, melainkan oleh tingginya
tingkat literasi. Saat itu, hanya 20 persen tentara Rusia yang bisa
“membaca dan menulis”. Sebaliknya seluruh personil tentara Jepang tahu
“membaca dan menulis” serta mahir menggunakan peralatan militer modern.
Meski kemudian Jepang kalah perang di tahun 1945, negeri itu tetap bisa
bangkit kembali menjadi negara berkekuatan ekonomi besar hingga saat
ini.
Ya, teknologi bisa diambil setiap saat, bisa dibeli
kapan saja, tapi literasi hanya bisa dibangun oleh waktu dan kesabaran.
Literasi yang dimaksud di sini adalah tingkat kemampuan masyarakat
dalam membaca dan menulis. Tapi tak berhenti di situ, karena literasi
juga kini berkembang hingga kemampuan masyarakat dalam berbagai fungsi
dan ketrampilan hidup.
Hal yang memprihatinkan dari negeri kita saat ini
bukanlah krisis nilai tukar atau gejolak ekonomi. Krisis ekonomi bisa
datang dan pergi. Tapi krisis membaca adalah masalah serius kebangsaan.
Survei Unesco menunjukkan kalau Indonesia adalah negara di ASEAN yang
minat bacanya paling rendah. Sementara itu, perbandingan jumlah buku
yang dibaca siswa SMA kita juga memprihatinkan. Kalau di Jepang, anak
SMA wajib membaca 22 buku, sementara di negeri kita nol buku. Hal ini
pernah disindir oleh Taufiq Ismail dengan istilah “Tragedi Nol Buku”.
Hasil survey yang dikutip oleh Witdarmono menunjukkan indikator dari Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS) maupun Programme for International Student Assessment (PISA)
mencatat bahwa kemampuan memahami dan keterampilan menggunakan
bahan-bahan bacaan, khususnya teks dokumen, pada anak-anak Indonesia
usia 9-14 tahun masih memprihatinkan.
Saturday, 28 September 2013
Analisis : Waspadai Ancaman Asing di Perbatasan Indonesia!
heglobal-review (MI) : Isyarat Karen Brooks, bahwa
Arab Spring (Musim Semi Arab) yang melanda Tunisia, Mesir dan lain-lain
sesungguhnya belajar dari aksi massa di Indonesia dekade Mei 1998-an (gerakan
reformasi) yang mengakibatkan tumbang rezim Orde Baru dari tampuk kekuasaannya.
Kajian Brooks di atas, selain sangat informatif juga mutlak dicermati terkait
perkembangan situasi kini dan kedepan. Dengan kata lain, apakah “dalang” dan
“pemilik hajatan” dari maraknya gerakan massa sekarang ini di beberapa negara
juga ada link up dan satu komando? Inilah asumsi yang perlu bangunan.
Contoh
lain, mengapa operasi Central Intellegence Agency (CIA), Amerika Serikat
(AS) tatkala menggusur Salvador Allende di Chilie (1973) bersandi "Operasi
Jakarta"? Apakah sekedar tiruan pola, atau modusnya identik ketika CIA
menggusur Bung Karno dekade 1965-an tempo hari? Niscaya ada link up atas
kedua peristiwa tersebut kendati secara fisik terpisahkan oleh ruang dan waktu.
Buku “Tangan-Tangan Amerika, Operasi Siluman AS di Pelbagai Belahan Dunia”
karya Hendrajit dkk sekurang-kurangnya mengurai teka-teki itu. Silahkan disimak
sendiri. Retorika nakal pun timbul: jangan-jangan dinamika politik yang kian
memanas di Bumi Pertiwi sekarang hendak disamakan pula dengan tata pola Arab
Spring di Jalur Sutera?
Teringat
statement Alan Weinstein (1991), salah satu pendiri National Endowment
for Democracy (NED): “banyak dari apa yang kita (NED) kerjakan, secara
diam-diam dilakukan 25 tahun lalu oleh CIA” . Retorika lagi: bukankah Musim
Semi Arab, yakni aksi-aksi massa non kekerasan di Jalur Sutera merupakan hasil
kerja NED melalui salah satu anak organisasi yang bertitel Central Applied
Non Violence Action and Stategic (CANVAS); apakah gerakan NED identik
dengan operasi CIA?
Pertanyaan
dan beberapa retorika di atas hanya prolog artikel sederhana ini, jadi tidak
harus dijawab secara jelas namun sekedar menggiring kerangka asumsi bahwa tidak
ada peristiwa (politik) apapun serta dimanapun, terjadi secara kebetulan. Semua
pasti ada proses bahkan by design secara konseptual.
Menyikapi
geliat politik glamour namun tak bermakna apa-apa bagi kepentingan nasional RI
menjelang 2014, diyakini banyak kekuatan luar (asing) turut meremot baik secara
langsung maupun tak langsung terhadap dinamika politik di negeri kaya
sumberdaya alam (SDA) seperti Indonesia. Konflik lokal adalah bagian dari
konflik global. Asumsi jitu, kiranya tak bisa dipungkiri. Politik praktis
bukanlah yang tersurat melainkan apa yang tersirat. Ini juga sering terbukti,
dan seterusnya.
Pendudukan
tentara Kesultanan Sulu di Sabah sebagai misal, bukanlah faktor tunggal
berbasis romantisme masa lalu sebagaimana rumor selama ini, bahwa Sultan Sulu
ingin Sabah kembali menjadi bagian wilayahnya --- itu hanya dalih yang
membonceng dalam isue sengketa perbatasan yang kini bersemi di sekeliling Laut
Cina. Akan tetapi penyerbuan Sulu (diduga) atas “undangan” Anwar Ibrahim, sosok
oposisi Malaysia yang melayani hegemoni Barat serta terkait Pemilu 2013 di
Negeri Jiran. Kenapa demikian, selain Anwar diinstal (dirancang) Wall Street
menjadi Head of Malaysia, juga diprakirakan ---merujuk pola dan model
kolonialisasi--- bahwa muara atau ujung daripada serbuan pasukan Sulu ke Sabah
diduga keras adalah kontrak ulang serta re-negoisasi atas konsesi minyak dan
gas di Sabah yang dimonopoli oleh Petronas, “Pertamina”-nya Negeri Jiran. Ingat
teori Deep Stoat: “If you would understand world geopolitic today, follow
the oil”. Ya, jika ingin memahami geopolitik dunia hari ini, ikuti aliran
minyak.
Geopolitik
Sabah memang menggiurkan. Free Malaysia Today memberitakan, tahun 2011
ia memiliki cadangan minyak 1,5 miliar barrel, sedangkan cadangan gas alam
tercatat 11 triliun kubik. Telah diketemukan beberapa sumber minyak dan gas
(migas) baru di Sabah diramalkan kian menambah tinggi cadangan migas Malaysia.
Kekayaan SDA-nya dikelola Petronas, perusahaan minyak yang berdiri tahun 1974
dan dimiliki oleh pemerintah federal. Dalam sebuah perjanjian yang ditanda
tangani tahun 1975, ia menerima royalti sebesar 5% dari nilai kotor produksi
minyak. Di tahun 2011 saja, Petronas meraup keuntungan atas penjualan minyak
Sabah senilai RM 15 miliar atau sekitar Rp 47 triliun. Luar biasa!
Lain
Deep Stoat, beda pula Global Future Institute (GFI), lembaga kajian
masalah-masalah internasional, Jakarta pimpinan Hendrajit awal 2013 membangun
asumsi (teori yang dianggap benar) setelah menyimak, mencermati, mengkaji dan
menimbang berbagai konflik di banyak belahan dunia, yakni:
“bahwa
mapping konflik dari kolonialisasi yang dikembangkan Barat, hampir dipastikan
segaris/satu route bahkan pararel dengan jalur-jalur SDA terutama bagi wilayah
(negara) yang memiliki potensi besar atas minyak, emas dan gas alam”.
Asumsi
GFI jelas tersirat makna, apakah konflik-konflik yang terjadi di “jalur basah”
sengaja dibuat oleh para adidaya terkait kepentingan geopolitik selaras kajian
Deep Stoat, memang tergantung seberapa tajam pisau dan sejauhmana analisa
insight (menyelam) dalam rangka mencermati konflik di permukaan. Lihatlah
ethnic cleansing di Rohingya, atau konflik antar suku di Lampung Selatan,
cermati konflik aliran dalam agama di Sampang, Madura, dll kenapa dipicu oleh
modus-modus sama yaitu pelecehan seksual serta berujung relokasi penduduk
(‘terusir’) yang hidup di atasnya. Sejauh ini, adakah kajian menyelam hingga
bawah permukaan? Lagi - lagi pertanyaan ini harus dikubur dalam-dalam.
Dalam
diskusi terbatas (22/3/2013) di Forum KENARI (Kepentingan Nasional RI) yang
dimentori Dirgo D Purbo, pakar geopolitik dan dosen di berbagai perguruan
tinggi Indonesia, terkuak pointers bahwa Sabah – Philipina -- Kalimantan Utara
(Kaltara) disebut Hot Triangel dan diplot sebagai daerah yang memiliki
potensi minyak dan gas alam 'seabrek-abrek' (banyak sekali). Dan tampaknya
Ambalat masuk pada plot tersebut. Layak diwaspadai dikemudian hari adalah,
selain ancaman Malaysia terhadap Ambalat semata-mata karena what lies beneath
the surface (apa yang terkandung di bawah permukaan) pulau dimaksud, juga
adanya hipotesa bahwa pemekaran Kaltara ialah langkah permulaan dari modus
kolonialisasi memindah konflik Moro, atau konflik Sabah ke Kaltara. Siapa dulu
mengawali konflik di Moro? Malaysia pun mengakhiri.
Ingat
pola kolonialisme baik asimetris (non militer) maupun simetris (militer) yang
sering dimainkan oleh Barat. Urut-urutannya, pasca ditebar isue aktual bakal
timbul tema, baru setelah itu skema kolonial muncul belakangan. Dan lazimnya
skema kolonialisasi dimanapun ujungnya adalah: "penguasaan pilar ekonomi
dan pencaplokan SDA". Perang Irak (2003) misalnya, setelah ditebar isue
senjata pemusnah massal, dilanjut dengan tema “invasi militer” oleh Paman Sam
dan sekutu, sedang skema yang terlihat adalah kapling-kapling SDA oleh negara
yang terlibat invasi militer ke Negeri 1001 Malam. Ini pola simetris. Sedangkan
model asimetris biasanya lebih soft lagi halus. Misal disebar dahulu isue flu
burung di sebuah wilayah (negara), maka tema yang akan dimunculkan daging mahal
atau daging langka, kemudian skema yang ditancapkan ialah jerat impor bagi
negara target.
Contoh
paling populer barangkali Arab Spring di Jalur Sutera. Tatkala Wikileaks dulu
sukses menyebar isue terkait kemiskinan, korupsi, pemimpin tirani, dan lainnya
maka tema yang diangkat adalah gerakan massa non kekerasan menentang rezim
berkuasa, sedang skemanya adalah tata ulang elit dimana aksi massa mampu
membuat lengser Ben Ali di Tunisia, Abdullah di Yaman dan Mobarak di Mesir.
Pola inilah yang menurut Brooks, meniru gerakan reformasi di Indonesia dekade
Mei 1998.
Konteks
dinaikkan sebentar untuk mengantar topik. Ya, bahwa adanya “arus kecil” atau
semacam isue bertitel sengketa perbatasan yang kini berserak di Laut Cina
Selatan, bukanlah faktor tunggal yang tiba-tiba, namun semata-mata karena
dorongan “arus besar” yang berupa geopolitical shift atau pergeseran geopolitik
global dari Jalur Sutera (Timur Tengah, Asia Tengah dan Afrika Utara) berpindah
ke Laut Cina Selatan pada umumnya dan Asia Tenggara khususnya. GFI mengendus
bahwa “arus besar” itu berupa:
1.
Selain AS tengah berproses membangun sistem pertahanan rudal di Asia guna
melawan manuver Korea Utara dan Cina tentunya, ia juga menyatakan memperluas
militernya di Asia Tenggara dan Samudera Hindia, termasuk peningkatan kerja
sama dengan Australia dan penempatan kapal-kapal perang di Singapura, Philipina
dll. Dan sungguh mengejutkan ialah pergeseran 60% armada tempurnya ke Asia
Pasifik;
2.
Paman Sam mendukung pembentukan ASEAN Security Community pada 2015, dan
terkait dengan isue Laut China Selatan, dan melalui Menhan Leon Panetta,
menganjurkan agar ASEAN melakukan “tindakan seragam” sekaligus menyusun
kerangka aksi yang memiliki kekuatan hukum;
3.
Kompleksitas pertikaian wilayah di Laut China Selatan, disinyalir bukan sebatas
klaim kepemilikan pulau-pulau, melainkan ada “persoalan lain”, artinya selain
diantaranya hak berdaulat atas Landas Kontinen dan Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE),
penggunaan teknologi baru terkait exploitasi dan explorasi minyak dan gas bumi
oleh negara tertentu, yang utama sejatinya faktor geostrategy possition
dan potensi SDA pulau-pulau yang disengketakan;
4.
Ketegangan antara negara-negara di kawasan tersebut secara politis cenderung
meningkat karena miskinnya win-win solution. Urgensi geografis Laut
China Selatan yang cukup vital dalam pergeseran geopolitik global, memungkinkan
terus terkendalanya upaya penyelesaian sengketa, bahkan diduga keras bahwa isu
konflik teritorial itu akan menjadi trigger dalam benturan militer secara
terbuka, dan lain-lain.
Sekilas
telah diulas di atas, bahwa pola kolonialisme dimanapun, senantiasa menempatkan
isue-isue sebagai langkah awal memasuki daerah sasaran, baru kemudian disusul
tema gerakan dan skema sebagai tujuan pokok. Ketika isue yang ditebar ialah
sengketa perbatasan, maka boleh ditebak bahwa tema-tema yang bakal diangkat
niscaya KONFLIK PERBATASAN, baik intrastate (konflik internal negeri) maupun
bersifat interstate (antar negara) dan lainnya. Dalam konteks ini, penyerbuan
Sulu ke Sabah merupakan pagelaran perdana di tahun 2013 dalam kerangka “tema”
kolonialisme. Artinya silahkan tunggu kelanjutan SKEMA yang hendak dimainkan di
Sabah: “Kontrak ulang konsesi minyak di Sabah, atau konflik interstate antara
Malaysia versus Philipina?”.
Melihat
perkembangan konstalasi politik baik tingkat nasional, regional dan global yang
semakin memanas, maka terkait isue yang berkembang di kawasan hendaknya para
elit politik, pengambil kebijakan dan segenap tumpah darah Indonesia mewaspadai
isue-isue di perbatasan terutama wilayah “konflik” dan/atau “rawan konflik”,
atau daerah-daerah yang belum selesai proses kebangsaannya pasca gejolak
politik di masa lalu.
Skenario
Papua pun sebenarnya bisa ditebak, artinya ketika isue yang ditebar ialah
kemiskinan, atau pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) oleh aparat, dll maka
menjadi keniscayaan bahwa tema yang diangkat ialah: "Hadirnya pasukan
asing ke Papua, atau referendum?". Tinggal pilih. Demikian pula Aceh pasca
perjanjian Helsinki, kini mulai ditabur “isue bendera” yang tidak sesuai nafas
kebangsaan. Tengok nanti temanya apa. Demikian juga Kaltara, Ambalat, dll yang
masuk lingkup Hot Triangel karena potensi minyak yang luar biasa, mutlak harus
diwaspadai.
Pada
akhirnya, bangsa ini membutuhkan bukan sekedar political will tetapi political
action dalam rangka melakukan kontra isue maupun kontra tema secara
konseptual baik simetris maupun asimetris sejak kolonialisasi muncul di tataran
hilir. Para elit dan pengambil kebijakan jangan malah larut dalam lingkaran
isue dan tema yang dimainkan oleh pihak luar, sementara SKEMA kolonialisme yang
berupa penguasaan ekonomi dan pencaplokan berbagai SDA oleh asing justru kian
mengakar namun tidak ada gugatan sama sekali oleh anak segenap bangsa, karena
elitnya sibuk di koridor (hilir) isue-isue dan tema.
Subscribe to:
Posts (Atom)